Menakar Kesakralan Quran, Terjemah, Tafsir dan Ta’wil 7


Menakar Kesakralan Quran, Terjemah Tafsir dan Ta’wil.

 

Dalam berbagai kesempatan di forum kajian, seringkali penyaji mengatakan “Sebagaimana Firman Allah yang berbunyi Wahai orang-orang yang beriman..blablabla”. Tidak jarang pula dalam setiap pengumpulan tugas berupa makalah dari mahasiswa, banyak yang menulis “Allah Berfirman : Wahai orang beriman …”. Tampaknya, penyaji maupun pemakalah dalam hal ini menyamakan antara Quran dan Terjemah. Imbasnya, pada lain kesempatan ia-pun akan menyakralkan terjemah sebagaimana ia menyakralkan Quran. Lantas, bagaimana sejatinya hubungan antara Quran, Terjemah, Tafsir dan Ta’wil, serta bagaimana kesakralannya?

—-=+=—-

Salah satu slogan yang biasa disampaikan dalam setiap kajian keagamaan adalah “Kembali kepada Quran dan Hadits”. Kalimat ini menjadi pembakar semangat bagi Ummat Islam untuk meninggikan derajat Quran dan Hadits. Dalam beberapa momentum lain, sering juga kita dengar istilah “Pelecehan terhadap Quran” sebagai reaksi jika terjadi sesuatu hal yang dianggap menciderai kesakralan Quran. Benarkah Quran itu sakral?

Tentu iya. Quran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, melalui Malaikat Jibril. Quran diturunkan sebagai salah satu Mu’jizat Rasulullah Muhammad SAW. Membaca Quran akan menghasilkan “reward ukhrawi” bagi pembacanya, yang bahkan dalam setiap huruf akan diganjar oleh Allah minimal dengan sepuluh pahala. Terdapat berbagai macam i’jaz dalam Quran yang menunjukkan kehebatan darizat yang menurunkannya. Kesemuanya itu merupakan bukti bahwa Quran adalah sesuatu yang sakral. Imbas dari kesakralannya adalah barangsiapa yang menghina, merendahkan serta melecehkan kesakralan Quran maka ia wajib diberi sanksi, apakah sanksi yuridis, maupun sanksi sosial.

Pertanyaannya, apakah kesakralan tersebut juga berlaku pada Terjemah, tafsir dan Ta’wil Quran?. Dalam hal terjemah Quran, misalnya. “Terjemah” dalam KBBI bermakna mengalihbahasa atau menyalin (memindahkan) suatu bahasa ke bahasa lain. Sebagai bentuk pengalihbahasaan, maka Terjemah Quran sama sekali bukanlah representasi dari Quran. Dalam QS Yusuf ayat 1 Allah berfirman

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya kami turunkan Qur`an dalam Bahasa Arab agar kamu memahaminya” (QS Yusuf 1)

Berdasarkan ayat tersebut, maka mafhum mukhalafahnya adalah hasil alihbahasa dari Quran bukanlah Quran itu sendiri, karena yang dimaksud Quran adalah yang diturunkan dalam bahasa arab. Karena terjemah Quran bukan merupakan Quran, maka Terjemah Quran tidak memiliki kesakralan sebagaimana Quran. Bahkan, membaca terjemah Quran tidak akan mendapatkan pahala sebagaimana membaca Quran, pernahkah anda mendengar ada Musabaqah Qiroatil Tarjamatil Quran?

Bagaimana dengan Tafsir? Al Jurjani mendefinisikan Tafsir bermakna membuka dan melihat. Artinya, tafsir akan membuka makna ayat, urusannya, kisahnya, dan sebab diturunkannya dengan lafadz yang menunjukkannya secara terang.Tentu yang membuka dan menunjukkan adalah sang Mufassir. Maka sampai di sini dapat diketahui bahwa Tafsir bukanlah merupakan Kalamullah, tetapi ia adalah hasil pemikiran penafsir atas kalamullah tersebut. Sebagai sebuah hasil pemikiran manusia, tentu ia tidak sakral karena yang melahirkannya (yakni Mufassir) adalah seorang manusia biasa yang tentu tidak luput dari kesalahan.

Takwil-pun duduk dalam posisi yang tidak jauh berbeda. Al Jurjani mendefinisikan Ta’wil adalah berpalingnya satu lafazh dari makna lahirnya terhadap makna yang dikandungnya, apabila makna alternatif yang dipandang lebih sesuai. Jika tafsir lebih banyak pada pemaknaan lafadz dan mufradat (kata), takwil menekankan pada pemaknaan makna dan kalimat.Takwil biasa digabung dengan tafsir, dimana usai menafsirkan mufradat yang ada dalam sebuah ayat, kemudian mufassir akan memberi komentar yang utuh dan komprehensif terhadap ayat yang telah ia tafsirkan. Komentar inilah yang sebut Takwil. Maka, takwil bisa juga diartikan mengumpulkan berbagai macam tafsir yang muncul dalam suatu ayat, kemudian menggabungkannya dalam satu kalimat yang utuh dan komprehensif. Tentu kesakralannya sebagaimana tafsir, yakni tidak memiliki kesakralan Quran.

Jika memperdalam ketiga hal tersebut, yakni Terjemah, Tafsir dan Takwil maka tentu butuh lembaran-lembaran panjang, tetapi setidaknya dari gambaran umum tersebut di atas diketahui bahwa Terjemah, Tafsir dan Takwil tidak memiliki kesakralan sebagaimana Quran. Hal tersebut tentu berkaitan dengan siapa yang berada di balik Terjemah, Tafsir dan Takwil tersebut. Perbedaan sosiokultural dari penerjemah, penafsir dan penakwil tentu akan menghasilkan produk yang berbeda. Perbedaan tersebut yang menyebabkan tidak adanya terjemah tunggal, tafsir tunggal maupun takwil tunggal. Terdapat berbagai macam terjemah, tafsir dan takwil yang itu tidak mungkin disatukan.

Oleh karenanya, perlu diperhatikan beberapa hal berikut :

  1. Quran adalah Kalamullah yang sakral, dan sekaligus sebagai Mu’jizat Rasulullah SAW. Wajib hukum nya bagi Ummat Islam untuk menjaga kesakralan Quran, misalnya dengan membiasakan diri untuk membaca, memelajari dan mengamalkannya.
  2. Terjemah Quran bukan suatu hal yang sakral. Jangan terjebak pada terjemah Quran tanpa mengetahui ayatnya. Salah satu bentuk desakralisasi Quran adalah masyarakat disuapi dengan terjemah, tanpa diberitahu ayatnya yang diambil dari Quran.
  3. Tafsir dan Takwil Quran juga bukan hal yang sakral. Perbedaan Tafsir dan Takwil biasa terjadi di kalangan mufassir, dan mereka memahami adanya perbedaan tersebut. Jangan menjadi orang yang mudah terkejut terhadap adanya tafsir baru yang berbeda dengan tafsir yang selama ini kita ketahui. Ingat, memercayai Quran itu termasuk Rukun Iman, sedangkan memercayai satu penafsiran tidak termasuk.
  4. Sebagai imbas dari kesakralan Quran dan ketidaksakralan Terjemah, Tafsir dan Takwil, maka kita dapat menyalahkan, memvonis sesat bahkan menghukum siapapun yang memiliki Quran yang tidak sama dengan yang kita miliki. Tetapi kita tidak bisa menyalahkan, memvonis sesat bahkan menghukum siapa yang memiliki terjemah, tafsir dan takwil yang berbeda dengan kita.

 

timbangan

Leave a comment