PARADE FATWA 115


Terbukanya pintu Ijtihad selebarnya menjadi bak mata pisau yang pada satu sisi dapat melumpuhkan muslim sendiri jika digunakan secara tidak tepat. Salah satunya adalah bagaimana setiap orang bisa mengeluarkan fatwa yang digelontorkan kepada publik, kemudian tidak jarang berpotensi melahirkan konflik. Persilangannya dengan politik dan bisnis biasanya menjadikan api konflik tersebut semakin besar. Sebagian muslim memilih untuk ikut “grubyuk” dalam pertentangan yang muncul akibat parade fatwa tersebut.

Pada masa sepeninggalnya Nabi, hanya ada beberapa sahabat yang biasa mengeluarkan fatwa, yaitu 1) Umar bin Khattab, 2) Aisyah, 3) Zaid bin Tsabit, 4) Abdullah bin Abbas, 5) Abdullah bin Umar, 6) Abdullah bin Mas’ud, 7) Ummu Salamah, 8) Anas bin Malik, 9) Abu Hurairah, 10) Abu Said al-Khudri, 11) Abdullah bin Zubair, 12) Abu Musa al-asy’ari, 13) Sa’ad bin bi Waqqash, 14) Salman al-Farisi, 15) Muadz bin Jabbal, 16) Jabir bin Abdullah, 17) Zubeir bin Awwam, 18) Talhah, 19) Abdurrahman bin Auf serta 20) Abu Bakar. Lima yang pertama dikenal paling banyak fatwanya, diikuti 15 orang kemudian. Bahkan Ali bin Abu Thalib tidak termasuk sahabat yang biasa mengeluarkan fatwa. Ummar bin Khattab terkenal sering mengeluarkan fatwa yang dikenal dengan “Ijtihad Umar”.

Maka, tidak cukup sekedar fatwa, imbangi dengan kerja nyata. Kelaparan, banjir, lingkungan kumuh, mahalnya harga daging, eksploitasi anak, mobil yang sering mogok, hasil panen yang kian sedikit, kucing terjebak di got, semua itu tak dapat diselesaikan dengan fatwa.

Leave a comment