Radikalisme Agama Takkan Laku di Perguruan Tinggi Keagamaan 92


Peristiwa teror bom Samarinda lagi-lagi mengusik keprihatinan kita atas semakin tergerusnya sikap ramah, santun dan toleran yang itu menjadi ciri khas alamiah seorang manusia, apapun agama, golongan dan status sosialnya. Pengeboman yang dilakukan di Rumah Ibadah, ditambah perilaku pengebomnya yang menggunakan, mengucapkan serta berniat untuk melakukannya atas dasar pemahaman keagamaan, tentu menampilkan citra bahwa teror ini adalah serangan Keagamaan. Sebagai sivitas akademika pada Perguruan Tinggi Keagamaan, citra tersebut harus ditolak semaksimal mungkin. Namun suka atau tidak, masyarakat secara umum memandang demikian. Lantas, bagaimanakah peran Perguruan Tinggi Keagamaan dalam mencegah radikalisme agama?

Sejatinya, Radikalisme Agama merupakan hal yang asing pada Perguruan Tinggi Keagamaan. Radikalisme Agama hanya dapat tumbuh subur pada Perguruan Tinggi Umum, atau Perguruan Tinggi yang tidak dibangun atas dasar keagamaan yang kuat. Pintu masuknya tentu melalui gerakan mahasiswa yang menjadi sayap organisasi radikal. Di Perguruan Tinggi Keagamaan, gerakan tersebut sulit masuk untuk menanamkan ideologinya. Mengapa? karena gerakan Radikalisme Agama tersebut secara otomatis tertolak jika masyarakat mau belajar agama secara komprehensif, berimbang dan tuntas.

Komprehensif artinya pembelajaran dilaksanakan secara menyeluruh pada semua cabang ilmu keagamaan mulai masalah hukum, tafsir, hadits, dan sebagainya. Berimbang maknanya pembelajar mengetahui segala bentuk perbedaan pendapat yang ada dilengkapi alasan yang melatarbelakangi perbedaan pendapat tersebut. Tuntas artinya pembelajaran yang dilakukan benar-benar selesai dan tidak berhenti pada pengantar saja, misal dalam mengkaji ilmu Fiqh maka ia akan belajar Ushul Fiqh, Qaidah Fiqh, dan sebagainya.

Jika ia tidak belajar secara komprehensif, maka ia hanya akan mengetahui dari satu sudut pandang keilkuan saja, serta tidak menganalisa dari sudut pandang lain. Jika pembelajaran yang dilakukan tidak berimbang, maka ia akan merasa bahwa hanya pendapatnya yang benar, di luar itu semuanya pasti salah, sesat dan menyesatkan. Jika belajarnya tidak tuntas, maka ia hanya menikmati kulit dari apa yang ia pelajari, belum menyentuh isinya. Ia baru tahu sedikit permukaan dari apa yang ia pelajari dan tentu saja ia tidak berhak meng-klaim seolah ia tahu tentang ilmu tersebut.

img_20161109_103116

Model pembelajaran keagamaan yang Komprehensif, Berimbang dan Tuntas tersebut sangat menghambat gerakan radikal. Bagi mereka, belajar agama tidak perlu seperti itu. Kebalikannya, mereka membibit orang yang mau belajar agama secara Parsial, Tertutup dan Praktis. Parsial maknanya hanya belajar sebagian ilmu dan mengabaikan hal lain (misal hanya tahu bab siyasah, jihad, hudud). Tertutup maknanya ia hanya akan belajar berdasarkan pendapat ulama yang sesuai dengan pendapat golongannya, kemudian menutup diri dari pendapat yang lain. Praktis artinya tak perlu belajar mendalam akan satu ilmu misal asbabun nuzul, tafsir, nasikh mansukh, dalalah dan sebagainya, semua itu tidak penting karena bagi mereka untuk menguasai Quran, kuncinya hanya satu, terjemahan.

Leave a comment