Ban Motor Kesurupan? Ganti Saja 35


Cukup aneh kedengarannya jika ada orang berkata “Ban motor saya kesurupan”. Namun setidaknya hal tersebut benar-benar saya alami. Bagaimana tidak, seminggu terakhir ini entah sudah berapa tukang tambal ban “disambangi” oleh Motor saya, si Vario Techno 125 PGM-FI. Memang kondisi ban luar sudah tinggal 25% dan diprediksi akan diganti usai tahun baru saat service penuh, namun dengan kejadian ban motor kesurupan ini, akhirnya penggantian dipercepat, sebelum jin yang merasuki ban motor tersebut mengajak kawannya untuk menulari sparepart motor yang lain. Gak lucu kan kalau nanti saya mengisi blog dengan tulisan “spion motor kerasukan”?

Beberapa pekan lalu, memang ban belakang motor mengalami kebocoran. Akhirnya di bawa ke tukang tambal ban. Beberapa hari kemudian, secara misterius angin di dalam ban lagi-lagi menghilang. Awalnya dikira bocor, akhirnya motor diseret (bahasa lain dari didorong) menuju tukan tambal ban. Setelah diteliti, bahkan diputar-putar berkali-kali, tidak ditemukan kebocoran apapun. Kemudian tukang tambal ban berasumsi bahwa pentil yang sudah jelek-lah penyebabnya. Ganti pentil baru (seharga 15rb + pasang). Dua hari kemudian, saat ambil motor mau pulang dari kampus, ternyata anginnya sudah hilang entah kemana. Olahraga lagi menuju tukang tambal ban. Sampai di sana, lagi-lagi tidak ditemukan satu-pun alasan penyebab hilangnya si angin tersebut. Bahkan sampai ban luar dibolah-balik sekalipun alasannya tidak ditemukan. Ya sudah, akhirnya diisi angin sampai penuh, lalu di bawa pulang, Esok paginya, saat bangun tidur, ban belakang lagi-lagi dalam kondisi kurus kering lemah lesu lunglai kehabisan angin. Insting saya sebagai lulusan pondok romadon mengatakan, tidak lain dan tidak bukan, roda motor saya kesurupan jin yang selalu menghembuskan angin ke luar ban dari jalan yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Daripada meruqyah ban yang otomatis mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit, maka saya memilih ganti ban saja lah.

Walhasil, pagi itu setelah memompa ban cukup keras, saya berangkat menuju salah satu toko ban. Yang mengherankan, toko ini hanya menjual ban. (ya iyalah, namanya juga “planet ban”, masak jual cincau). Sebenarnya ada barang lain selain ban, tetapi masih berhubungan dengan motor, misal oli motor, minyak rem motor, teh gelas untuk pengendara motor, dll. Alasan memilih tempat ini, tentu karena tempat ini menggunakan peralatan canggih untuk melepas ban dari motor, melepas ban dan pelek motor, hingga untuk mengisi angin ke ban motor. Untuk melepas ban dari motor, pegawainya tidak menggunakan alat yang berbentuk seperti kunci, tetapi menggunakan alat seperti bor, yang berbentuk seperti pistol. Untuk melepas pelek-pun menggunakan mesin, tidak menggunakan gagang besi sebagaimana tukang bengkel umumnya. Dengan menggunakan alat-alat di atas, maka tentu lebih aman bagi baut maupun pelek motor. Untuk memompa-pun menggunakan teknologi yang mengeluarkan nitrogen. Alatnya dinamai Nitroman. (Kalau yang di tepi jalan pakai kompresor mungkin namanya kompraman, kalau yang pakai pompa namanya pompaman).

Setelah antri sekitar 27 menit, saya dipanggil untuk memilih ban yang hendak dipasang. Sejak awal memang saya memilih untuk memasang ban Tubeless (agar tidak gampang kesurupan sebagaimana kejadian sebelumnya), kalau bisa yang berukuran lebih besar dari standar. Awalnya, pegawai menawarkan ban “Michellin” yang berharga 299rb. Wah, kalau itu sudah jauh di atas kemampuan kantong. Akhirnya pilihan tersebut dikesampingkan. Muncul pilihan lain misal FDR, Aspira, dan sebagainya. Akhirnya, pilihan jatuh pada ban Tubeless Aspira 100/90, lebih besar dari aslinya 90/90. Sempat ingin pakai FDR 100/80, tetapi ukuran tersebut kalau dipasang ternyata tidak jauh berbeda dengan standarnya. Akhirnya Aspira 100/90 deal dipasang. Harga ban 265 ribu, minyak yang dipasang di dalam ban 35 ribu, ongkos pasang gratis, plus bonus gratis pompa nitrogen seumur hidup (jika tekanan angin dalam ban berkurang. Jika tidak berkurang jangan dipompa terus seumur hidup, nanti meledhuk).

screenshot_20170103-113614

Yups, pakai ban yang lebih besar, otomatis si motor kelihatan lebih gagah. Melintasi jalan raya-pun lebih mantap. Jika biasanya sedikit ada getaran saat melintasi marka jalan, kini perbedaan ketinggian jalan beebrapa cm dapat dilibas dengan mulus tanpa oling sedikitpun. Namun, pas berhenti di lampu merah, mulai terasa bedanya. Yah, saya harus jinjit bak penari balet amatiran. Nasiiip…


Error: Unable to create directory wp-content/uploads/2017/10. Is its parent directory writable by the server?

About Gandhung Fajar Panjalu

Pembelajar yang masih belajar bagaimana cara untuk belajar


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib Diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

35 thoughts on “Ban Motor Kesurupan? Ganti Saja