Antara Semangat Keberaksaraan (literasi) dan Konten Media Sosial Kita 493


Keberaksaraan, atau biasa kita kenal dengan istilah “literasi” adalah keterampilan dalam membaca, memahami dan menghasilkan teks sebagai bagian dari kapasitas intelektual seseorang. Keberaksaraan merupakan bagian dari konstruksi sosial yang dibangun di berbagai lembaga, khususnya pada lembaga pendidikan. Tanpa ada keberaksaraan, maka megahnya lembaga pendidikan hanya bak menara gading. Sebagai sebuah konstruksi sosial, ia biasa dilakukan dalam diskursus terbuka maupun tertutup. Dalam diskursus terbuka sebagaimana pada seminar, khutbah, maupun forum umum lainnya. Dalam diskursus tertutup dapat dilihat pada kelompok diskusi, ruang kelas, hingga percakapan dalam grup jejaring sosial. Sebuah jejaring media sosial berbasis kelompok (grup) menjadi salah satu diskursus tempat berwacana.

Keberaksaraan sebagai manifestasi dari membaca dan menulis tentu memiliki hubungan yang sangat erat dengan lembaga pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Keberaksaraan dan pendidikan, bagai amplop dan perangkonya, seharusnya sama sekali tidak terpisahkan. Keberaksaraan di lembaga pendidikan harus diwujudkan oleh sumber daya manusianya dalam berbagai hal baik diskursus terbuka maupun tertutup.

John W Miller dari Central Connecticut State University USA dalam bukunya “Word Literacy, How Countries Rank and Why It Matters” pada tahun 2016 merilis data pemeringkatan keberaksaraan internasional. Ia meneliti 61 negara di dunia. Hasilnya, indonesia duduk di peringkat 60, di antara Thailand pada peringkat 59 dan Botswana, salah satu negara di Afrika bagian selatan pada peringkat paling buncit[1].

Sekarang, mari menengok jejaring sosial kita, apakah sudah mencerminkan keberaksaraan atau belum. Saat ini terdapat sangat banyak jejaring sosial yang sejatinya dapat digunakan sebagai wadah mengamalkan keberaksaraan, baik itu melalui BBM, FB, IG, WA, Telegram, Line, dan sebagainya. Kita buka salah satu aplikasi jejaring sosial, misalnya Whatsapp. Aplikasi yang dikenal dengan sebutan WA tersebut selain dapat menjadi penghubung komunikasi dua arah, juga menjadi wadah komunikasi berjamaah, atau biasa disebut grup. Dalam jejaring WA penulis, terdapat lebih dari 40 grup. Lebih dari separuhnya berkaitan dengan aktifitas penulis di bidang akademik, sisanya grup hobi, bisnis, dan sebagainya. Dari sekian banyak grup yang bernuansa akademis, jika diukur tingkat keberaksaraan yang dicerminkan dalam postingan anggotanya, rasanya tidak sampai 2%. Pembahasan dalam grup tersebut lebih banyak pada hiburan, pembahasan yang tidak berkenaan dengan tujuan grup, hingga tulisan copy paste. Dalam hal ini, menurut penulis, tulisan hasil copy-paste tidak dapat dimasukkan dalam koridor keberaksaraan, karena tindakan plagiasi sangat bertentangan dengan semangat keberaksaraan.

Semangat keberaksaraan tentu saja berisi semangat untuk membaca dan menulis. Bukan semangat untuk menjiplak karya orang lain dalam postingan kita. Kaitannya dengan membaca dan menulis, setidaknya terdapat tiga tujuan membaca, yakni (1) mendapatkan informasi, (2) mencari hiburan, (3) meningkatkan keilmuan. Begitu pula dengan menulis, setidaknya memiliki tiga tujuan, yakni (1) memberikan informasi), (2) Menghibur, (3) membangun keilmuan.

Jka masih ada yang berteriak “ayo budayakan literasi” namun hobinya sebar berita hoax, plagiasi, sekaligus gemar copas sana sini, sebaiknya ajak pelakunya untuk bangun pagi, lalu mandi, sikat gigi, dilanjut sarapan dan minum kopi. Mengapa? karena sejatinya ia sedang bermimpi.

 

Salam.

 

 

 

[1] https://www.theguardian.com/books/2016/mar/11/finland-ranked-worlds-most-literate-nation lihat juga http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib Diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

493 thoughts on “Antara Semangat Keberaksaraan (literasi) dan Konten Media Sosial Kita