Hoax Lama Bersemi Kembali 143


Jika muncul pertanyaan, semenjak kapan hoax mewabah di masyarakat? Tentu tidak mudah untuk menjawab. Diksi “hoax” sendiri muncul kurang lebih tahun 2006, melalui film yang berjudul “The Hoax”, film drama di Amerika besutan sutradara Lasse Hallstrom dan skenarionya ditulis oleh William Wheeler. Film ini dibuat berdasarkan sebuah buku dengan judul yang sama, karya Clifford Irving. Film ini mengisahkan Irving yang ingin kaya dalam tempo cepat, kemudian ia berkeinginan untuk membuat biografi Hughes, seorang pebisnis pesawat terbang. Namun, dikarenakan Irving sendiri belum pernah mewawancarai Hughes, maka biografi yang ia buat bersumber dari imajinasi, khayalan, dan apa yang dikatakan masyarakat tentang Hughes. [1]

Semenjak saat itulah kata hoax beredar di masyarakat, dan digunakan oleh seluruh netizen di dunia (termasuk indonesia) untuk menyifati sebuah informasi palsu yang beredar di masyarakat. Namun, jauh sebelum film ini muncul, tidak sedikit berita palsu yang beredar dan meresahkan masyarakat. Kisah yang termaktub dalam cerita Hadits af Ifki tentang tuduhan palsu yang terjadi atas diri Umm al Mu’minin Aisyah tentu merupakan contoh hoax keagamaan yang terjadi pada periode awal Islam. Musailamah dijuluki al-Kadzdzab karena kebiasaannya menyebar berita palsu, alias hoax. Dan cerita kepalsuan-kepalsuan lain yang terus saja terjadi di sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Saya masih ingat menjelang tahun 2000-an (dan sepertinya ini telah terjadi beberapa tahun sebelumnya), dimana banyak orang yang datang ke fotocopyan membawa selembar kertas untuk difotocopy sebanyak 10 lembar, kemudian kertas hasil copyan tersebut dibagikan ke pengguna jalan yang lewat. Tidak lama kemudian, datang orang lain membawa kertas yang sama dan digandakan sebanyak 10 lembar pula, dibagikan kepada masyarakat, dan seterusnya. Lembaran yang digandakan tersebut berisi pesan dari seseorang yang mengaku bermimpi, bertemu juru kunci makam Rasulullah, kemudian berpesan untuk mengamalkan bacaan tertentu, dan ditutup dengan pesan untuk menggandakan lembaran tersebut agar rezekinya lancar, ditambah ancaman jika pesan tersebut tidak digandakan maka ia akan mengalami musibah yang beruntun. Terlepas dari bagusnya anjuran untuk berzikir, namun penyandaran informasi tersebut pada mimpi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan rasanya tidak salah jika memasukkan lembaran ini dalam peristiwa hoax. Siapa yang diuntungkan dengan berita hoax ini? Minimal, petugas fotocopyan yang menikmati untungnya.

Uniknya, isi kertas tersebut baru-baru ini beredar lagi di media sosial, dengan isi yang sama namun terdapat sedikit perbedaan diksi. Tentu pembaca tidak diperintah untuk mem-fotocopy, tetapi ditugaskan untuk menyebarkan ke minimal 5 kontak/grup medsos. Padahal, satu grup medos dapat berisi ribuan anggota, artinya sama saja ia telah memfotocopy 5.000 lembar. Jika hoax berbasis fotocopy ada yang diuntungkan, yakni jasa fotocopy (meskipun itu tidak dapat dijadikan pembenaran penyebaran hoax), dalam hoax berbasis medsos ini siapa yang diuntungkan?

Satu hal yang pasti, ini membuktikan bahwa berita hoax benar-benar “shalihun li kulli zaman wa makan”, selalu cocok untuk dimunculkan kapan saja dan di mana saja. Hoax juru kunci makan Rasulullah tersebut isinya sama, dan muncul di waktu dan tempat yang berbeda. Nyatanya, masih ada saja segelintir ummat yang mempercayainya. Karena sifat hoax yang “tak lekang oleh waktu” tersebut memungkinkan berita hoax yang muncul hari ini bisa saja muncul beberapa tahun lagi, dengan sedikit modifikasi untuk semakin mempercantik tampilannya. Hoax saja bisa muncul berulang kali, akankah Cinta Lama Bersemi Kembali? Entahlah.

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/The_Hoax

Leave a comment