Petrachor dan Fiqh Hujan 50


Apa yang paling dinikmati saat hujan? Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda, lengkap dengan tafsir dan takwilnya. Ada yang menikmati menetesnya air hujan yang membawa kesuburan bagi tanah dan tanamanya, ada pula yang menikmati dingin dan terjebak pada kenangan karenanya. Ada pula yang menikmati suasana berteduh saat hujan turun. Sebagaimana kita ketahui, meskipun saat ini telah ditemukan teknologi mutakhir bernama “jas hujan”, namun faktanya masih banyak orang yang memilih berteduh saat hujan tida. Dalam forum berteduh tersebut, seseorang bisa ngobrol ngalor ngidul dengan kawan senasib seperjalanan yang sama-sama berteduh. Lihat saja, di bawah jembatan layang di jalanan ibukota, pemandangan lautan manusia yang berteduh saat hujan turun menjadi pemandangan yang biasa. Tak peduli aktifitasnya cukup memacetkan jalan, setidaknya mereka asyik berlindung di sana.

Bagi saya pribadi, setidaknya ada tiga hal yang dapat dinikmati saat hujan. Pertama, keberkahan yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana kita diajarkan untuk berdoa “Allahumma Shayyiban Nafi’an” untuk mengharap semoga hujan turun membawa kemanfaatan.

Kenikmatan kedua adalah adanya Petrichor. Petrichor ialah aroma alami yang biasa muncul saat hujan mulai membasahi tanah. Petrichor berasal dari bahasa Yunani yaitu petros yang artinya batu dan ichor yang bermakna cairan. Aroma semerbak tanah yang terkena air hujan tersebut bagi saya membawa nuansa kedamaian, ketenangan dan kenyamanan.

Hal ketiga yang saya nikmati di dalamnya adalah pergulatan seputar ilmu hukum islam (fiqih) yang berkaitan dengan hujan. Fiqih hujan tentu bukan hal yang baru muncul dalam diskursus Ummat Islam. ia telah ada semenjak Islam muncul sebagai peradaban. Salah satu bentuk fiqih hujan klasik adalah status hukum air hujan yang bersifat suci dan menyucikan, sesuai firman Allah :

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوراً

 

“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci dan menyucikan.” (QS. al-Furqon [25]: 48)

Fiqih klasik lain seputar hujan adalah adanya kebolehan bagi seseorang untuk tidak mengikuti jamaah di masjid dikarenakan hujan. Sesuai hadits Rasulullah :

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَمُطِرْنَا فَقَالَ: لِيُصَلِّ مَنْ شَاءَ مِنْكُمْ فِي رَحْلِهِ

 

“Kami melakukan perjalanan bersama Rasulullah, lalu kami mendapati hujan, maka Rasulullah bersabda: Hendaklah melakukan sholat di tempatnya bagi yang berkehendak.” (HR. Muslim 1636)

Pada era kontemporer, dimana perkembangan zaman melesat bagai panah meninggalkan busurnya, tentu semakin banyak pula permasalahan fiqih seputar hujan. Misal, bagaimana status hukum air hujan hasil pengembangan teknologi kimiawi yang berasal dari benda yang diduga bersifat najis. Tentu ini butuh jawaban dari kacamata fiqih.

Atau tentang bagaimana hukumnya mencuri hujan dari daerah lain? Misal, daerah A adalah daerah yang sulit hujan, kemudian pemerintahnya membuat teknologi untuk menyedot awan dari daerah B agar berpindah ke daerah A, akibatnya daerah A dibasahi hujan, sedangkan daerah B kehilangan awan, akhirnya tidak jadi hujan. Jangan menganggap hal tersebut sebagai kisah fiktif belaka. Cerita tersebut mirip sebuah kisah nyata dimana Inggris dituduh mencuri hujan dari Siprus, awal tahun lalu. Tentu pendekatan fikih harus hadir dalam permasalahan ini.

Atau tentang bagaimana hukumnya berteduh saat hujan yang mengakibatkan terganggunya fasilitas umum dan berimbas pada kemacetan jalan sebagaimana kisah pembuka di atas. Fikih harus hadir menjawabnya, bukan?

 

Keterangan :

1. Ditulis saat hujan, tentu sambil dibalut perenungan, dan kenangan.

2. Karena sifatnya perenungan, maka pertanyaan seputar fiqih hujan di atas hanyalah pertanyaan. Jawabannya? masih direnungkan.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib Diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

50 thoughts on “Petrachor dan Fiqh Hujan