Relasi Keberagaman Dalam Pusaran “Filter Bubble Effect” 278


Hari ini, seorang kawan heran dengan tampilan di aplikasi “Youtube” yang ada pada ponsel pintarnya, dimana pada bagian “video yang direkomendasikan” muncul deretan video yang sejatinya kurang layak muncul, karena mengandung unsur seksualitas, misalnya. Atau pada kisah lain, ketika kita mencari jaket merk tertentu di situs jualbeli online, kemudian kita membuka website maka muncul iklan yang menampilkan jaket yang kita cari tersebut. Bahkan, di laman Media Sosial (seperti Facebook) pun memunculkan iklan dengan tema yang sama, padahal kita tidak pernah sekalipun mencari iklan jaket tersebut di Facebook. Atau kisah kawan yang lain dimana ketika membuka sebuah website, iklan web tersebut yang muncul di layarnya berbeda dengan yang muncul di layar komputer kawannya. Pada layar komputernya menampilkan iklan perumahan, sedang di layar kawannya muncul iklan penjualan mobil. Saat itu memang ia sedang mencari perumahan murah, sedangkan kawannya adalah seorang yang memiliki bisnis jual beli kendaraan. Mengapa hal tersebut terjadi?

Itulah yang biasa disebut Efek Gelembung Penyaring (Filter Bubble Effect/FBE). Istilah ini awalnya diperkenalkan oleh Elli Pariser, seorang aktifis dunia maya. Menurutnya, FBE adalah sebuah keadaan hasil perhitungan algoritma, dimana sebuah situs akan menebak apa yang mungkin ingin dilihat oleh pembaca. Tebakan tersebut didasarkan pada lokasi, riwayat klik, pertukaran komentar, pencarian, dan sebagainya. Artinya, jika pada laman web yang anda kunjungi menampilkan iklan sebuah produk, berarti anda dianggap pernah mencari informasi di internet tentang produk sejenis. Atau misalnya anda merupakan penggemar sepakbola, dimana anda diketahui sering membuka laman berita maupun video tentang sepak bola, maka secara otomatis Youtube akan merekomendasikan beberapa video tentang sepakbola untuk anda lihat.

Bahkan, meskipun anda sedang berada di komputer yang benar-benar baru sekalipun, setelah anda login ke email anda kemudian membuka youtube, maka Youtube akan melakukan hal yang sama, yakni merekomendasikan laman web yang mereka anggap ingin anda baca.

Kaitannya dengan Relasi Keberagaman Manusia, hal ini sangat terlihat di dunia maya. Seseorang yang biasa berinteraksi dengan beberapa orang lain yang memiliki kesamaan tertentu (misal sama-sama mendukung pergerakan A), maka algoritma di Facebook akan merekam hal tersebut, lalu akan merekomendasikan dan memunculkan berbagai macam postingan tentang hal tersebut. Adapun postingan di luar tema pergerakan A tetap ada, namun tidak muncul di halaman orang tersebut, karena menurut algoritma, orang tersebut hanya berminat minat dengan pergerakan A dan tidak minat dengan pergerakan lain. Imbasnya, ia akan merasa bahwa pergerakan A memiliki massa yang sangat besar di dunia maya, sedangkan pergerakan lain tidak memiliki massa, sedikitpun.

Apa yang hari-hari ini terjadi di negara kita menandakan bahwa fenomena FBE ini benar-benar telah mengakar pada masyarakat. Seseorang yang memiliki pandangan politik tertentu, misalnya. Pada beranda facebooknya akan beredar banyak informasi yang sehaluan dengan pandangan politiknya, dan hampir-hampir tidak satupun berita yang membahas lawan politiknya. Demikian pula sebaliknya. Akibatnya, ia merasa jumawa. Ia menganggap bahwa berita tentang pandangan politiknya cukup besar, sedangkan berita di luar pandangan politiknya seakan benar-benar tidak ada. Demikian pula sebaliknya.

Dampaknya-pun tidak kalah gawat. Misalnya yang terjadi pada sebagian masyarakat muslim yang saat ini sedang mengidolakan Riziq Shihab. Di beranda medsosnya akan ber-seliweran berita positif tentang idolanya, dan tidak satupun muncul berita tentang ulama lain yang berpendapat berbeda dengannya. Padahal, perbedaan pendapat adalah keniscayaan yang tak terhindarkan. Berawal dari sini bibit-bibit pengkultusan muncul, hingga kemudian lahir selebaran ajakan untuk mengangkat Riziq Shihab menjadi Imam Besar Umat Islam di Indonesia, misalnya.

Jika diilustrasikan, fenomena FBE dapat digambarkan sebagai berikut :

Pada gambar A, seseorang berada dalam kondisi ideal tanpa perekaman algoritma apapun, sehingga di sekitar tubuhnya tersebar berbagai macam informasi atau diilustrasikan sebagai gelembung yang berwarna-warni. Tidak ada warna yang bergerombol, karena belum ada perekaman algoritma apapun. Dalam hal ini, seseorang bisa melihat informasi apapun secara terbuka. Namun, tentu hal ini tidak berlangsung lama, karena setelah ia memilih satu warna, maka proses pengelompokan berdasarkan algoritma segera berjalan, maka akan muncul kondisi pada gambar B.

Pada gambar B, proses algoritma mulai berjalan, dimana gelembung mulai berkelompok berdasarkan warnanya. Adapun gelembung berwarna biru adalah informasi yang digemari oleh pembaca, sehingga berkeliling di sekitar pembaca dan melahirkan gelembung baru (ditandai garis hitam) yang memisahkan antara gelembung biru dengan gelembung warna lain. Di luar itu, gelombang warna lain-pun bergerombol dengan gelembung yang sewarna. Ini adalah keadaan setelah proses algoritma berjalan.

Pada gambar C, karena dibatasi oleh sekat gelembung besar berwarna hitam, maka pembaca akan merasa seolah-olah hanya ada gelembung berwarna biru, dan tidak ada gelembung lain yang memiliki warna selain biru.

Tentu ini bertentangan dengan konsep keberagaman yang ada pada masyarakat kita. Fenomena FBE akan melahirkan masyarakat yang egois, fanatik berlebihan, overklaim, merasa paling benar, dan sebagainya. Tentu sikap yang sedemikian bukanlah sikap yang tepat di tengah keanekaragaman yang terjadi pada masyarakat. Fenomena FBE membuat media sosial kita menjadi sebuah laman yang menjemukan. Setiap membuka timeline, isinya mungkin hanya berkutat soal itu-itu melulu.

Melalui catatan ini bukan berarti saya menganggap bahwa FBE itu tidak berguna, sama sekali bukan itu. Saya hanya menguraikan bahwa kecanggihan teknologi dapat menjadi bumerang bagi orang yang gagap akan teknologi tersebut. Ibarat Smartphone yang berada di tangan unsmart-people. Sejatinya, FBE memiliki manfaat yang sangat besar, dimana memudahkan seseorang untuk menggeluti sesuatu yang menjadi konsentrasinya. Dalam bahasa lain, melalui FBE, media sosial berupaya semaksimal mungkin mengenali penggunanya, bahkan lebih dekat daripada sang pengguna itu sendiri.


Leave a Reply to VoloasEscor Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib Diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

278 thoughts on “Relasi Keberagaman Dalam Pusaran “Filter Bubble Effect”