Hermeneutika Drama Oplas


 

Kesalahan RS hanya satu, ia berbohong. Tapi kesalahan orang-orang di sekelilingnya, banyak. Memercayai perkataan RS yg ternyata berbohong memang bukanlah kesalahan (dalam bahasa mereka, ini menunjukkan bahwa mereka baik, penuh empati, dan husnudhan tingkat tinggi -meskipun husnudhannya berlaku hanya pada org dlm barisan politik yg sama).

Kesalahan mereka adalah memberikan interpretasi liar terhadap kisah yang diterima, kemudian menjadikan interpretasinya sebagai teks baru dg bumbu-bumbu politik di dalamnya, kemudian menyebarkan rekonstruksi cerita tersebut kepada khalayak. Sadisnya, publik-pun lagi-lagi melakukan reinterpretasi sedemikian rupa hingga kisahnya makin menggelundung, membesar, dan bias ke sana kemari.

Interpretasi awal yg muncul adl kekejaman salah satu pihak kpd seorang aktivis wanita, tua pula. Reinterpretasi yg muncul adl mulai bangkitnya isu komunis, upaya represif membendung rakyat yg vokal, hingga kondisi bandara yang tak lagi aman dari preman.

Apakah interpretator dapat melepaskan diri dari kesalahan dg berkata “kami telah dibohongi”? Tentu tidak. Materi hermeneutika mengajarkan kepada kita bahwa seorang interpretator bertanggungjawab penuh atas apa yang telah ia interpretasikan.

Author pertama (RS) dalam lelakon ini telah memunculkan teks yg dalam klasifikasi Ricouer masuk dalam Oral Communication. Oleh reader (orang2 yg menerima kebohongan RS) kemudian diinterpretasi ulang menjadi teks baru yang maknanya sama dg yg berikan oleh RS, namun dg bumbu tambahan hingga makin “sedap”.

Karena interpretator awal adalah para politisi (lihat, isu ini awalnya digulirkan para politisi, dan RS pun curhat kpd politisi) maka teks baru yg kemudian muncul dipenuhi nuansa politik. Dalam teori Gadamer, inilah bentuk perbedaan cakrawala (horizon) antara pengarang dan penafsir. Andai RS curhat kepada aktifis buruh, mungkin akan beda interpretasi yg muncul. Apalagi jika ia curhat pada aktifis perfilman, barangkali interpretasi yg datang bisa membawa-bawa menantunya, pemain film muda ganteng idaman masa kini.

Menurut Betti, penafsir dan teks memiliki posisi yg sama-sama kuat di hadapan author. Penafsir dg interpretasi telah menjadi entitas baru yang memiliki kekuatan. Bahkan, penafsir dapat membiarkan teks mengubah dirinya sendiri agar sesuai konteks. Inilah kenapa interpretator di lingkungan RS tidak bisa begitu saja “cuci tangan” dg alasan karena jadi korban kebohongan. Salahnya dimana? Ya karena melakukan interpretasi.

Karenanya dalam melakukan interpretasi harus dengan hati-hati dan terencana. Karena hasil dari interpretasi menjadi teks baru yang bisa mandiri dan tidak bergantung pada teks lama. Seandainya para interpretator berhati-hati dalam menyimpulkan, serta melakukan check and recheck sebelumnya, maka mungkin ia tidak akan berinterpretasi demikian. Kata Betti, sebelum menginterpretasi, penafsir harus mengalami peristiwa itu sendiri, bukan dari imajinasi yang didekonstruksi oleh bayangannya sendiri. Oleh karenanya, langkah tepat jika RS dikenai 378 KUHP, sedang orang di sekelilingnya yg telah membuat kegaduhan karena interpretasinya setidaknya dikenai UU ITE.

Salam.

Bukan Hasil Oplas