7 Tipe Netizen Usai Ketahuan Nyebar Hoax


Aktifitas menyebarkan berita hoax bukanlah hal asing saat ini. Mengejutkan, pernah terungkap pengakuan seseorang yang mana menyebarkan berita hoax merupakan sebuah profesi yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah baginya. Tinggal menerima berita yang dikirim oleh “upline”, sebarkan di jejaring medsos yang dimiliki, lalu tunggu bunyi “krrrrkkk” di mesin ATM. Sesimpel itu. Beberapa penyebar hoax berjalan lenggang kangkung karena hoax yang disebarkan dibenarkan atau didiamkan, meski beberapa diantaranya “panas kuping” karena ketahuan bahwa info yang ia sebarkan ternyata hoax.

Kali ini, saya ingin berbagi tentang 7 tipe perilaku seseorang usai ketahuan nyebar berita hoax. Tulisan receh ini sekedar catatan penulis terhadap perilaku netizen (medsosiyun) yang ketahuan nyebar hoax, apa saja yang mereka lakukan?

1. Bilang aja “Nemu di Beranda”.
Ini tipe ngeles yang paling banyak ditemuin di masyarakat. Ketika ia menyebarkan hoax kemudian dibantah dengan data yang akurat, maka ia menggunakan sejuta alasan untuk ngeles, dengan melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Kalimat yang paling standar adalah “Nemu di beranda, dapet broadcast dari temen, share dari grup sebelah”, maupun kalimat standar yang senada. “Besuk pagi matahari bakal berwarna polkadot”, misal. Jika ada seseorang yang menyebarkan isu itu, lantas esoknya ternyata matahari tetap cerah seperti biasa (dan tidak totol-totol macam anjing dalmatian 101), maka tipe ini cuman bilang “Ya jangan tanya gue donk kenapa mataharinya ga totol-totol. Gue kan Cuma nge-share dari grup sebelah”.

2. Saya cuman share, jika tidak benar silahkan dibuktikan.
Sebuah “gagal pikir” yang H-Q-Q ditunjukkan oleh para penyebar hoax dengan tipe yang satu ini. Dia nyebar berita hoax, nuduh orang lain, terus yang dituduh malah disuruh membuktikan. Para pemikir hukum bilang, kalo “yang menuduh harus memberikan bukti atas tuduhannya, sedangkan yang menyangkal cukup dengan sumpah”, konon katanya gitu. Melemparkan tuduhan sambil memaksa yang dituduh untuk membuktikan kesalahan dari tuduhannya, merupakan salah satu bentuk “logical fallacy”. Seorang jomblo akut misal, ia menyebarkan info di medsos bahwa ia telah menikah. Jelas ini merupakan hoax akbar. Saat ada teman yang mencoba klarifikasi “Lhah, bukankah elu jomblo bang?”, maka si jomblo bakalan ngeles dengan bilang “Enggak cuy, gue dah nikah. Coba elu tunjukkan apa buktinya gue jomblo, ga ada kan?” misalnya. Jelas ini adalah gagal pikir. Kecuali jika si jomblo tersebut benar-benar sudah nikah (dan tidak hoax) dibuktikan dengan adanya agenda pernikahan, punya buku nikah, dan sebagainya.

3. Ngeyel sambil bilang “Data gue bener, data elu sesat”
Nah, tipe ini adalah kelompok yang mencoba untuk melakukan “counter attack” jika ada yang melakukan klarifikasi atas berita hoax yang telah disebar. Ia berupaya mempertahankan hoax yang telah disebar. Tak jarang, ia menutupi berita hoaxnya dengan hoax lain yang senada. Misal ketika ada seseorang yang mengeluarkan isu bahwa “si A ternyata seorang gay”. Ketika dibantah sembari disebutkan bahwa A tidak gay, bahkan sudah menikah dan punya anak, ia tetap ngeyel dan yakin bahwa si A adalah gay. Adapun buku nikah yang dimiliki hanya kedok, sementara bocah yang selama ini dianggap anaknya dianggap bukan anak si A. Ia tetap yakin opininya benar, dan data yang dimiliki lawan adalah salah. Ia beralasan jika “Pemilik data adaah pembuat hoax terbaik”. Ini justru alasan yang konyol. Jika berbicara dengan data dianggap hoax, lalu bicara yang ngawur tanpa data dianggap apa? Wahyu? Konyol, (pake Y, jangan typo).

4. Ketauan? Biarin dah. Nyebar hoax lagi ah.
Mulai ngeselin nih. Ada orang yang cuek bebek meskipun ia ketahuan nyebar hoax. Di grup keluarga misal, ia nyebar hoax. Di bawahnya ada banyak yang ngomenin meluruskan hoax yang ia bagikan. Eh, dia malah diem aja gak komen apa-apa. Dia muncul nyebar hoax pas grup lagi sepi-sepinya, lau diam saat grup pas lagi rame-ramenya (dan pergi pas lagi sayang-sayangnya). Tahu-tahu dia muncul lagi di hari yang berbeda, dengan menyebarkan berita hoax yang lain. Ngeselin kan?

5. Minta maaf, tapi besoknya ngulangin lagi.
Bagi tipe ini, ketahuan nyebar hoax berarti apes. Baiknya, dia punya kemaluan yang cukup besar (baca : rasa malu yang cukup tinggi). Kalau tidak ketahuan, maka ia akan terus-menerus menyebarkan hoax. Jika lagi apes dan ia ketahuan menyebarkan hoax, maka yang ia lakukan adalah minta maaf. Namun, alih-alih melakukan “taubatan nashuha” dengan diiringi azzam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatannya, yang terjadi adalah tidak lama kemudian ia kembali menyebar hoax. Prinsip hidup orang dengan tipe ini simpel. Bikin hoax, ketahuan, minta maaf, bikin hoax lagi, ketahuan lagi, minta maaf lagi dan begitu seterusnya sampai JKT48 nyanyi lagu qasidahan.

6. Diam Saja, mulai berhati-hati kalau nyebar berita.
Kesalahan adalah pelajaran terpenting dalam hidup, begitu kurang lebih prinsip kehidupan seseorang dalam tipe ini. Salah menyebarkan berita dengan cara menyebarkan berita yang salah telah memberikan pelajaran dalam hidupnya. Usai menyebarkan berita hoax, ia memang memilih berdiam diri sambil merenungki kesalahannya, terkadang sambil menghapus postingan yang telah ia buat. Esoknya ia bertekad untuk lebih berhati-hati. Ia berhati-hati agar kalaupun ia ingin nge-share suatu berita maka ia pastikan itu bukan berita hoax. (minimal, kalaupun itu berita hoax maka jangan sampai ketahuan, wkwkwk)

7. Meminta Maaf dan Memberi Klarifikasi
Ini tipe yang paling jarang ditemui di jagad rimba medsos raya. Mungkin, hanya satu permil orang yang berada dalam model ini. Ketika ketahuan nyebar berita hoax, buru-buru bukan hanya menghapus postingan hoaxnya namun ia berujar “saya minta maaf atas hoax yang telah saya sebar, saya akui berita itu keliru, sebenarnya yang terjadi adalah seperti ini, blablabla”.

Nah, apakah di jejaring medsos anda masih ada yang hobi nyebar hoax? Jika info hoaxnya diluruskan, apakah perilakunya masuk dalam salah satu di antara tujuh tipe tersebut?

Tambahan : Jika ada di antara temen elu yang ngaku pernah kuliah tapi hobi nyebar hoax, maka sebenarnya itu bukan salah dia, cuman dia yg salah gabung grup WA, gitu lhow bosque…

Salam Hangat.