Guru


Saya terlahir dari pasangan guru. Bapak, semenjak saya kecil dikenal sbg guru ngaji. Bahkan, sampai sekarang masih aktif berkomunikasi dengan orang-orang yang dulunya pernah diajar ngaji. Ibu, hingga saat ini masih aktif mengajar, dan biasa dipanggil “mbah guru”.

Menikah, dapat istri yang ndilalah, guru. Panggilan “bu guru” sering terdengar sebagai kuniyahnya. Adik kandung saya, dua orang, menempuh pendidikan tinggi keguruan pada bidang ilmu yang berbeda.

So, kehidupan saya cukup akrab dengan dunia guru. Saya-pun, hingga saat ini masih aktif berguru. Browsing, main sosmed, yutup-an, mbolang, cangkruk warkop, dan berbagai aktifitas lain adalah bagian dari rihlah ilmiah, nyantri, alias berguru. Itu baru yang aktifitas receh, belum lagi aktifitas lain yang -dianggap- serius. Yang ini, agaknya berat untuk diceritakan, cukup dilaksanakan.

Menjadi guru bukan sekedar mentransfer ilmu, begitu kata para tokoh pembelajaran. Ia juga mentransformasikan nilai, spirit, dan berbagai horizon yang melingkupinya. Maka, begitu pula dengan berguru, alias nyantri. Ia-pun berkewajiban menyerap nilai, semangat, perjuangan serta pengabdian yang dilakukan gurunya.

Terimakasih para guru, tetaplah jadi pelita bagi muridmu, lingkunganmu, dan bangsamu.

Selamat hari guru, 25 Nopember 2018.

Terlampir, foto guru SD saya. Mana foto gurumu?.

(Ditulis di Dyandra Convention Hall Surabaya, saat mengantar adik wisuda, menyelesaikan studi Sarjana Pendidikan, calon guru.)

#guru #hariguru #selamathariguru #guruku