Kausalitas & Keimanan – Ulasan Film “A Man Called Ahok” dan “Hanum & Rangga”


Rasanya ada yang kurang jika hanya menonton salah satu saja dari kedua film yang sedang “head-to-head”, yakni film “A Man Called Ahok (AMCA)” dan film “Hanum & Rangga (H&R)”. Seni memang adalah seni, dan sampai kapanpun ia akan tetap begitu. Namun sebuah produk seni tentu saja bisa diekspansi oleh berbagai hal baik itu bisnis, spiritual, personalitas hingga politik. Menariknya, ekspansi politik atas kedua film tersebut sangatlah kental. Bagi sebagian orang, ini adalah “bioskop rasa pilpres”. Entah siapa yang sebenarnya memantik isu politis dalam kedua film tersebut.

Konon, film H&R semula dijadualkan tayang tanggal 15 sebelum kemudian mengajukan jadualnya menjadi tanggal 8, bersamaan dengan film AMCA. Kalau cerita itu benar, maka film H&R-lah yang menabuh genderang perang membawa kreasi seninya ke dalam gelanggang politik. Karenanya, film AMCA diasosiasikan sebagai film yang cocok dinikmati kubu pro petahana, sedangkan film H&R dikooptasi menjadi film kubu pro oposisi. Tentu tak bisa disalahkan, mengingat dalam musik (mungkin juga berlaku dalam film), berlaku adagium “Tak ada musik enak atau tak enak. Yang ada adalah musik yang kau suka atau tidak”. Beruntung saya berkesempatan untuk menonton keduanya, itupun dalam selisih waktu yang sangat tipis. Sehingga film kedua saya tonton dalam keadaan di mana ingatan terhadap film pertama masih cukup jernih dan membekas. Mana yang lebih baik dari keduanya? Keduanya adalah karya yang hebat, tentu di balik kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Film H&R memiliki kualitas tampilan yang sangat bagus. Pemilihan lokasi syuting (Amerika), kualitas gambar dan aspek visual lain terlihat sangat indah. Menonton film H&R dari awal sampai akhir benar-benar memanjakan mata. Berbeda dengan AMCA yang mengambil lokasi syuting di Belitung, tentu tidak lebih spesial daripada H&R dengan Amerikanya. Ditambah lagi kualitas pengambilan gambar yang pada beberapa scene cukup bikin puyeng, misal saat Ahok kecil naik mobil KimNam pulang ke rumah. Rekaman yang diambil dari bangku belakang mobil seolah tanpa stabilizer sehingga membuat tampilan bergetar cukup hebat, penonton-pun sekilas merasa cukup puyeng. Ditambah para kisahnya yang menceritakan kehidupan pemain lokal menjadikan para pemeran tampil polosan tanpa make-up, tentu berbanding terbalik dengan H&R yang memposisikan diri bekerja di lingkungan media, dikelilingi pemeran ganteng-cantik hampir di seluruh tampilannya.

 

Sesuai namanya, Film H&R menceritakan tentang Hanum dan Rangga. Bagaimana aktifitas keduanya di Amerika, serta upaya mempertahankan cinta antara keduanya. Tentu ini ada kaitan dengan film-film yang telah ia keluarkan sebelumnya, baik itu Sementara, film AMCA sebenarnya bukan menceritakan tentang Ahok. Ia lebih menitikberatkan isi filmnya pada bagaimana seorang KimNam mendidik anak-anaknya, yang mana salah satu dari anaknya menjadi orang sukses bernama Ahok. Keduanya sama-sama film Biopik, yakni film yang mengisahkan perihal tokoh terkenal, atau yang dianggap terkenal. Hanum Rais, tentu memiliki nama yang cukup terkenal, minimal nama belakangnya. Sementara Ahok, hampir pasti seantero negeri ini mengenal nama tersebut. Dalam hal ini, film H&R menggunakan nama sendiri untuk menceritakan kisahnya, sementara film AMCA menggunakan nama besar Ahok untuk mengisahkan kehidupan keluarganya.

Menonton film H&R cukup banyak scene yang membuat penonton larut dalam romantisme “ciye-ciye”. Mulai saat Hanum ber-romantis ria dengan Rangga, kecemburuan Hanum, hingga saat Azima bilang “Saya sekarang juga single parent” yang oleh penonton kembali di “ciye-ciye” karena dianggap sebagai sebuah kode. Tepat seperti dugaan saya sebelum nonton film ini, drama percintaan tak pernah lepas dari sebuah “menye-menye”. Sementara menonton film AMCA, banyak scene yang membuat penonton mengolah emosinya, terutama saat bagaimana KimNam mengajarkan kebaikan dan ketegasan pada anaknya. Hanya satu aksi termehek-mehek di ruang privat yang muncul di film AMCA, yakni saat istri KimNAm di dalam kamar mengeluh kehabisan uang karena KimNam terus membagi-bagikan uang yang dimilikinya kepada masyarakat yang membutuhkan. Di luar itu, seingat saya tak ada. Bahkan, yang paling membuat saya berkesan adalah saat mengetahui ada karyawannya yang tak jujur, KimNam menyuruh anaknya untuk memecat pegawai tersebut, dan ahok-pun memecatnya dengan tenang sembari berkata “Bapak besok tidak usah bekerja di sini lagi”. Sebuah pembelajaran akan kejujuran dan ketegasan semenjak dini.

Yang menarik dalam perspektif keagamaan, kedua film tersebut mengajarkan tentang bagaimana kuasa tuhan itu terjadi. Film H&R Mengajarkan tentang bagaimana keimanan dan keyakinan terhadap tuhan akan membuahkan hasil akhir yang baik. Sementara film AMCA memberikan pelajaran perlunya menanam kebaikan, untuk mencapatkan hasil yang baik pula. H&R mengajarkan ayat Allah yang harus diimani, sedangkan AMCA mengajarkan kausalitas, Sunnatullah yang harus diyakini. Dalam H&R, Terlihat betul bahwa Hanum berupaya mati-matian agar masyarakat Amerika mampu melihat bagaimana wajah Islam yang sebenarnya, meski itu berlawanan dengan perintah atasannya. Namun ia yakin, ia mampu mengubah anggapan masyarakat tentang Islam, dan ia melakukan itu bukan karena karir maupun jabatan, tetapi tanggungjawabnya sebagai seorang muslimah. Dari ungkapannya, tentu ini menunjukkan aspek keimanan yang tinggi di mana ia berani menerima apapun resiko yang didapatkan dari jalan dakwah yang ditempuh. Dan Allah sendiri yang menjanjikan, bahwa akan ada balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman.

Film H&R menampilkan balasan yang baik bagi orang yang beriman tersebut. Hanum, wartawan magang yang mendapatkan fasilitas apartemen di Manhattan, entah bagaimana ceritanya pada bagian akhir film ia mendapatkan serangkaian balasan yang baik. Mulai dari kepemilikan saham GNTV tempat ia bekerja tiba-tiba menjadi milik Philippus (yang awalnya Philippus sangat dendam dengan GNTV akibat menayangkan live kematian putranya), hingga tiba-tiba Rangga memutuskan batal terbang ke Vienna dan kembali menemui Hanum. Seluruh balasan yang sifatnya tiba-tiba dan tak tahu bagaimana terjadinya itu sangatlah mungkin terjadi bagi orang-orang yang percaya sepenuhnya terhadap kekuasaan tuhan.

Sementara film AMCA mengajarkan tentang sunnatullah, tentang kausalitas. Seseorang akan menuai apa yang ia tanam. Sesiapa yang menanam kebaikan bagi orang lain, maka ia akan memanen kebaikan pula. Aktifitas KimNam yang “menghambur-hamburkan” uang miliknya untuk masyarakat yang membutuhkan, membuat dalam kehidupannya ia-pun banyak terbantu oleh orang lain saat ia benar-benar membutuhkan. Pembelajaran akan ketegasan yang diberikan KimNam menjadikan nilai tersebut melekat dalam pribadi anak-anaknya, hingga kesemua anaknya tampak tak ada kompromi terhadap sesuatu hal yang dianggap salah.

Dalam perspektif keluarga, keduanya memiliki makna penting. Pada bagian akhir film H&R, hal yang membuat Rangga membatalkan penerbangannya adalah melihat romantisme sepasang manula yang tua renta di dalam pesawat. Keduanya menunjukkan aksi yang penuh saat penerbangan. Akhirnya, rangga-pun memilih batal terbang karena ia yakin, ia tak akan mampu terbang jika satu sayapnya tak terbawa. Dalam konsep kekeluargaan, hal ini yang disebut dengan Rahmah. Rahmah, sebuah perasaan yang datang entah karena apa yang menjadikan keluarga terus bertahan, adalah salah satu jalan untuk menuju Sakinah. Sementara film AMCA, banyak pesan penting bagaimana melahirkan generasi penerus yang tegar, tegas, jujur dan berdedikasi tinggi.

Saya sarankan tentu anda menonton keduanya untuk belajar bagaimana kehidupan ini berputar. Bagi anda yang ingin belajar bagaimana mempertahankan keluarga di tengah terpaan goda, belajarlah dari H&R. Sementara itu, bagi yang ingin memiliki generasi yang tangguh, belajarlah dari AMCA. Menonton keduanya rasanya seperti melihat bagaimana Allah memperjalankan kehidupan ini, di atas dua rel yang saling seiring selaras. Jalan keimanan, dan jalan kausalitas.