Ketika Iklan Google Sebaris Dengan Sedot WC


Sudah sejak beberapa pekan lalu, saya melihat iklan tempel seperti ini. Di pohon, pagar rumah, tepi jembatan, dan tempat-tempat strategis lainnya. Lihat iklan jasa sedot wc, jual beli komputer bekas dan badut dan sulap ulang tahun, adalah hal biasa rasanya. Tapi yang ini? Tempelan ini memberikan layanan jasa menawarkan rumah dunia maya kita untuk menduduki halaman pertama google. Tak penting membahas siapa yang menempel iklan ini, apakah orang iseng, atau mungkin intel seperti yang dikabarkan hobi nempel di diding rumah negeri seberang.

Dahulu, jasa ini mungkin sangat eksklusif. Penyebaran iklannya lewat internet, spam email, nge-flood komen di berbagai medsos, dan lain sebagainya. Sekarang, tampaknya tidak. Mereka menjajakan dagangannya dengan menempel di sembarang tempat, bahkan di depan pasar sekalipun. Lagi-lagi, sebaris dengan jasa iklan sedot WC.

Kebutuhan untuk tampil pada halaman pertama di mesin pencarian google tampaknya akan menjadi kebutuhan pokok pada masa mendatang. Kebutuhan aktualisasi diri (dalam teori Maslow) salah satu perwujudannya adalah muncul pada halaman pertama.

Jika saat ini anda sedang terkoneksi dengan internet, coba ketikkan berbagai kata kunci di google. Apa yang muncul pada halaman pertama adalah apa yang oleh algoritma google dianggap sangat tepat sebagai jawaban atas pertamnyaan anda. Mobil ramah lingkungan, rumah mewah surabaya, wisata keren di zimbabwe, makanan khas pangandaran, dan berbagai kata kunci lain dapat kiranya dicoba. Minimal, cobalah memasukkan nama anda di google untuk tahu, seberapa “beken”-nya sih anda di dunia maya?

Bagi anda, para pebisnis bidang kuliner, belum sukses rasanya jika nama tempat bisnis anda belum masuk pada laman pertama google. Coba saja ketik “rawon surabaya” misal, maka sederet rumah makan yang menyediakan rawon akan muncul. Bagi traveller, tentu ia langsung memilih untuk menuju pada alamat yang ditujukan pada halaman pertama, daripada harus membuka laman dua, tiga dan seterusnya.

Begitu pula pengelola jasa, termasuk jasa pendidikan. Coba sekali waktu “iseng” memasukkan nama dari jasa yang anda miliki pada mesin pencari google. Misal masukkan kata kunci “SD Al Kubro Purwakarta”. Jika ternyata website ataupun halaman medsos dari sekolah tersebut tidak masuk pada halaman pertama, atau setidaknya lebih redah dari website kemdiknas yang di dalamnya mencantumkan nama seluruh sekolah, artinya jasa yang anda tawarkan belum “marketable” dalam kacamata google. Atau jika anda pengelola pendidikan menengah SMK dengan penjurusan bidang Teknik Pegunungan, coba masukkan kata kunci “Teknik Pegunungan” pada google. Dapat dipastikan, apa yang muncul pada halaman pertama adalah apa yang oleh google dianggap bagus.

Tentu, aktualisasi diri versi google ini hanya salah satu parameter kesuksesan, dibandingkan dengan kesuksesan lain. Bisa saja kemudian berkata “Rawon yang di pageone google kok rasanya gak enak ya, kalah dengan rawon lain yang ga ada di pageone”, tentu di sini ada banyak hal yang saling berkaitan. Setidaknya, muncul di laman pertama adalah bentuk kepercayaan publik, serta kepercayaan sebuah mesin algoritma kepada kita.

Salam pejwan, gan!