Ta’awun Untuk Negeri ; Refleksi Milad Muhammadiyah 106


Salah satu aktifitas “ekstrakurikuler” saat nyantri dulu, namanya ro’an. Seluruh santri bergotong-royong melakukan hal besar secara bersama-sama. Hal besar itu bisa berupa membersihkan halaman, membuat taman, bahkan sampai mendirikan bangunan.

Seluruh santri terlibat. Tak peduli apa latar belakangnya di luar pesantren, apakah ia anak petani bahkan meski ia gus (putra kyai) sekalipun, semua melakukan ro’an bersama-sama. Tentu saja keterlibatannya “biqodri quwwatihim”. Saat mendirikan bangunan, misal. Ada yang mengaduk semen, mengangkut adukan semen ke tempat yang dicor, mengerek adukan dari lantai bawah ke atap tempat pengecoran, dan sebagainya.

Ada pula yang duduk di bawah pohon rindang, sambil mengomentari temannya yang ro’an. “Adukannya kurang halus, semennya kebanyakan, cara mengereknya salah” dan komentar lain. Biasanya ia duduk dekat dengan jajanan yang disiapkan oleh para santriwati. Untuk yang ini, biasa kita terapkan qaidah “biqadri uqulihim”. Wong gendeng mah bebas, dan “jununu fununu” kata nadhoman.

Hal penting dalam ro’an adalah, seluruh santri meyakini bahwa ia akan memperoleh balasan sebanyak peluh yang telah ia teteskan. “Biqadri ta’ab”, istilahnya. Balasan tersebut dapat berbentuk apapun. Kesehatan, keberkahan ilmu, kebermanfaatan hidup, dan sebagainya. Setidaknya, ada sebuah rasa bangga jika kemudian hari hasil ro’an yang ia lakukan berdiri dan bermanfaat bagi orang lain.

Tema “Ta’awun” yang diangkat dalam Milad Muhammadiyah kembali menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai gerakan amal. Ia meletakkan pergerakannya dalam aktifitas filantropi. Dalam aksi filantropi, fenomena komentator yang duduk di bawah pohon rindang di atas tentu ada. Tetap yakin, al-ujrah biqadri ta’ab. Tetap semangat menebarkan benih-benih gotong-royong, kebersamaan dan kemanusiaan.

Selamat Milad 106 Muhammadiyah, terus ber-ta’awun untuk menggapai ridla ilahi.

Salam.