Blackpink, Shopee dan LGBT


Sejak pertama kali dengar pertanyaan “apakah Shopee ada kaitan dg LGBT?”, saat itu juga saya yakin pasti ada hubungannya dg blackpink. Ditarik lebih jauh, benar keterkaitannya hingga pada K-Pop. Ujungnya ada pada persaingan budaya dan bisnis.

Meski bukan penggemar setia shopee, harus diakui laman “flash sale”-nya menarik untuk ditongkrongi. Selain beragam barang yang dijual, juga dapat mengintip barang lain yg akan muncul di flash sale gelombang berikutnya. Bagus untuk cuci mata. Ditambah lagi promo free-ongkir maupun promo lain. Sepertinya, shopee menjadi aplikasi jual beli online yang cukup digandrungi sobat milenial, baik yang berduit maupun yang “missqueen” seperti saya. Namun untuk bertransaksi, saya bertahan di Tokped yang meski flash-sale miliknya sangat minimalis dan membosankan, tapi saya suka fitur keuangannya karena pakai ovo, satu dompet dg matahari dan grab. Nah, kalau naik grab pake ovo khan promonya banyak, di sinilah naluri “crazypoor” saya bekerja.

Iklan shopee-pun bertebaran tiap beberapa menit. Bahkan launcing “flash-sale”-nya ditayangkan live di berbagai stasiun TV, mendatangkan artis K-Pop kekinian pula. Tak pelak, ibarat pohon yang makin tinggi, Shopee mulai digoyang angin dari segala penjuru. Salah satu senjatanya adalah dg mengangkat isu K-pop, ditarik ke wilayah LGBT.

Perkrmbangan K-pop sendiri cukup menarik untuk diperhatikan. Ia memiliki pangsa pasar tersendiri di tengah arus perkembangan zaman yang tanpa batas. Ia bersaing dg arus kebudayaan yang lain. Jika dulu pertarungan Hollywood dan Bollywood sudah dianggap sebagai perang dunia budaya, saat ini peserta kontestasinya malah beragam. India, K-Pop, bahkan mungkin JAVHD ikut serta berkontestasi. (Saya lebih senang lokal meski mentok mp4 dan 3gp, abaikan!).

Selain beraroma persaingan bisnis, petisi yang dibangun untuk menolak Shopee & Blackpink tampaknya merupakan bentuk kegagapan menangkap derasnya arus budaya yang masuk. Alih-alih memfilter, mereka justru menolak mentah-mentah dengan senjata yang dianggap cukup ampuh, yakni tuduhan LGBT. Sebagian lain menolaknya dg alasan penampilan Lisa dan kawan2 dalam iklan shopee dianggap terlalu vulgar. Ah, tampaknya mereka lupa, tontonan film hindi di berbagai stasiun tv lebih menampakkan eksotisme (dan kadang erotisme) dan mengeksplore lebih luas tubuh wanita. Pusar, paha, serta gerakan geyal-geyolnya lebih “mengundang” untuk dilihat daripada blackpink.

Rasanya, tak perlu ada klarifikasi dari pihak-pihak yang bersangkutan. Shopee maupun Blackpink tak usah terlampau serius menanggapi keisengan pembuat isu. Bahkan, barangkali shopee perlu berterimakasih kepada pembuat isu karena sudah diiklankan secara gratis dan massif, apalagi menjelang HArBolNas (Hari Belanja Online Nasional). Kalaupun Blink (fansgroup Blackpink) mau nanggapi, bolehlah, namanya juga fans. Jika ada yang bertanya pada Lisa dkk, cukup kibaskan rambut sambil nyanyi, “hit you with that du du du”…

 

image by Google