Hargai Ayat, Hargai Mayat


Ketertarikan keagamaan memang seringkali dijadikan sarana promosi yang kadang dianggap manjur untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Hingga saat ini, para penjual madu dan jinten hitam alih-alih membuat infografis kandungan dagangannya, mereka lebih memilih untuk menggunakan teks-teks keagamaan yang menunjukkan bahwa pemuka agama terdahulu telah menggunakannya. (Saya tidak membenci madu maupun penjualnya, toh saya juga jualan madu plus sarangnya. Tulisan ini adl opini, bukan persaingan bisnis.)

Konsumen ideologis diyakini sebagai sasaran empuk dalam bisnis. Bahkan, beberapa orang yang tidak memiliki ikatan struktural apapun dapat untuk “dipaksa” mengonsumsi maupun meninggalkan suatu produk dengan satu alasan, hanya karena ikatan ideologis. Membeli suatu produk karena ideologi, dan memboikot produk lain karena ideologi pula. Bisnis ideologi.

Dunia bisnis memang makin hari makin keras. Tak heran jika digunakan berbagai cara agar dagangan tetap laku. Pun dunia politik. Politik adalah bisnis, begitu kata para tokoh. Di dalamnya terdapat istilah untung-rugi, supply and demand, modal, transaksi, mahar, dan bahasa bisnis lain.

Namun, tetap harus ada etika yang patut dipegang erat dalam berbisnis. Model bisnis yang menyasar konsumen ideologis dengan menyitir ayat-ayat tertentu rasanya tidak tepat. Ia akan bertabrakan dengan “laa tasytaru bi ayatillahi tsamanan qalila”. Di sini berlaku mafhum muwafaqah, ‘tsamanan qalilan’ saja tidak boleh apalagi ‘tsamanan katsiran’. Dalam berpolitik, cocoklogi dengan menggunakan kutipan ayat-pun rasanya sama sekali tak layak untuk dipakai. Memposisikan nomor urut satu lebih baik dari nomor dua karena firman Allah dalam QS Al-Kahfi “wa lam yaj’al lahu ‘iwaja, qayyima” adalah contoh gathuklogi yang sangat salah.

Tren terbaru, tak hanya ayat yang diotak-atik untuk dagang, namun juga mayat. Entah dimana naluri orang-orang yang menggunakan fenomena bencana yang akhir-akhir ini marak terjadi lantas dikait-kaitkan dengan barang dagangannya.

Islam sangat menghormati jiwa dan raga seseorang. Penghormatan tersebut bahkan diberikan sampai ia meninggal. Jasad yang telah ditinggalkan oleh ruh-pun masih menjadi sasaran penghargaan dalam agama, melalui konsep perawatan jenazah. Dalam kajian yang lebih teoretik, penghargaan terhadap jenazah menjadi bentuk dari hifdh al-nafs dan hifdh al-‘irdh.

Namun, lagi-lagi ada saja yang memberi harga murah (untuk mengganti kata ‘tak menghargai’) kepada mayat. Dijadikanlah bencana yang ada menjadi peluang untuk mempromosikan dagangannya. Pun politik, tak sedikit politisi dadakan yang melakukan cocoklogi kaitannya politik dan bencana yang terjadi. Alih-alih berduka cita, yang ada malah menjadikan ajang bencana sebagai momentum berpolitik.

–+=+–
Salah satu akar dari perdamaian adalah penghargaan. Hargai manusia yang lain, maka hidupmu akan dihargai.

Saatnya kita belajar ber-empati, menjaga hati dan menghargai agar kedamaian senantiasa tersebar di muka bumi.
Damai di bumi,
Damai di hati.