Tahu (sen)Diri


Salah satu tulisan nyetrik di belakang bak truk pantura berbunyi “lek kesusu budalo wingi”, kalau terburu-buru berangkatlah kemarin, begitu kira-kira. Tentu ini lebih filosofis dibandingkan tulisan ‘pergi karena uang pulang karena sayang, pergi dicari pulang dipisuhi, piye kabare penak jamanku to?’ maupun tulisan lain.

Tulisan tentang “budalo wingi” di atas setidaknya mengajarkan satu hal, tahu diri. Seringkali kita melihat crowded di jalan raya akibat kurangnya rasa tahu diri. Pagi tadi, terlihat kecelakaan akibat pengendara yang memaksakan memutar gas saat lampu traffict-light menunjuk warna kuning, padahal jarak antara kendaraannya dengan lampu TL cukup jauh. Alhasil, ia tak mampu mengontrol saat kendaraan dari arah lain berjalan, dan blam! Terjadilah tumbukan yang cukup keras. Untung tidak ada korban jiwa, hanya terlihat dua orang luka cukup parah. Ia sedang tak tahu diri. Ia tak mampu mengira jarak dirinya dengan TL, kemampuan kendaraannya untuk berakselerasi, kekutan horse_power yang dimiliki kendaraannya, aerodinamika yang mungkin menghambat, hingga kemungkinan munculnya kendaraan dari lajur lain. Itu hanya contoh kecil, selain banyak kisah persoalan yang muncul disebabkan tidak mampunya seseorang untuk bersikap tahu diri.

Tentang tahu diri, menarik apa yang didefinisikan oleh Abu Hanifah tentang apa itu fiqh. Jika imam mazhab yang lain mendefinisikan fiqh secara normatif dan legal-teoretis, Abu Hanifah justru memunculkan definisi yang filosofis. Menurutnya, fiqh adalah “ma’rifatun nafsi maa lahaa wa maa ‘alaihaa”, pengetahuan seseorang tentang apa yang menjadi hak dan kewajiban baginya. Definisi ini tak jauh bedanya dengan apa yang disebut tahu diri. Konsep filsafat hukum Islam yang memunculkan tujuan hukum Islam (maqashid syariah)-pun dibangun atas dasar tahu diri. Jangan membunuh karena pasti dirimu tak ingin dibunuh, adalah contoh bagaimana tahu diri dijadikan sebagai landasan dalam beristinbath. Tahu diri melahirkan berbagai nilai positif dalam kehidupan.

Tahu diri akan melahirkan kedisiplinan. Tahu jika hari minggu batas akhir pengumpulan tugas, sedangkan untuk menyelesaikan tugas butuh waktu dua hari, maka selambatnya hari jumat ia sudah memfokuskan diri menghadapi tugasnya. Tahu kalau mau masuk jalan tol, maka sebelumnya sudah mengisi e-money yang dimiliki. Tahu jika jam sembilan ada janji dengan kawan, sedangkan dari rumah butuh waktu satu jam perjalanan maka jam tujuh sudah mulai bersiap menata baju, mandi, dan sebagainya lalu jam delapan berangkat. Ini soal tahu diri.

Tahu diri-pun melahirkan keteraturan. Sebuah organisasi disebut baik tentu dari aturan dan keteraturan yang ada di dalamnya. Apapun posisinya, atasan maupun bawahan (mungkin termasuk luaran dan dalaman) perlu tahu diri untuk mewujudkan apa yang dalam bahasa keren disebut ‘good governance’. Amanah dalam sebuah organisasi hanya dapat dilaksanakan oleh pemegang amanah yang tahu diri. Kalau sampai ada pemegang amanah yang tak tahu diri, mustahil amanah tersebut dapat ditunaikan sebagaimana mestinya. Jika sampai saat ini banyak aturan yang dilanggar oleh pembuat aturan, barangkali karena memang pembuat aturannya tidak tahu diri. Ia lupa bagaimana memposisikan dirinya. Legislator yang terjerat aturan korupsi misalnya. Konsep ‘yadri aw la yadri’ dalam turats banyak menggambarkan pentingnya tahu diri untuk mewujudkan keteraturan dalam kehidupan.

Tahu diri menunjukkan kedewasaan. Orang dewasa tentu tidak diukur dari makanan dewasa, ukuran baju dewasa, apalagi dengan ukuran jika potong rambut dikenai harga dewasa. Pun bukan dilihat dari hobi membaca bacaan dewasa maupun melihat tontonan dewasa. Abaikan yang ini. Kedewasaan seseorang (maturity) salah satunya diukur dengan sikap tahu diri yang dimiliki. Ia mampu berbuat apa yang harus dilakukan, meskipun tidak diberitahu. Ia bisa tahu diri, dan rasa tahu diri-nya muncul dengan sendiri. Ia tahu diri secara sendiri.

Sudahkah kita mengetahui diri kita secara sendiri? Mari bersama ‘nggrayahi githoke dhewe, ora usah nggrayahi tanggane’.

Salam.