Debut Debat


 

Debut Debat.

Ronde 1 telah usai. Belum ada pukulan mematikan, hanya ada beberapa gelitik kecil yang sekedar menimbulkan tawa. Yang satu terlampau santai dan terus berkelit bahkan meski tak ada serangan, satunya terus menyerang ke arah yang tak jelas, karena sumber yg tak jelas pula.

Bagi netizen yang terbiasa melihat pertarungan dua kubu, jelas ini bak dongeng sebelum tidur. Gelak yang muncul akibat percobaan serangan terkait “grusa-grusu”, hingga tawa yang keluar akibat “khan korupsinya cuman dikit”, tak sebanding dengan pidato yang menguras hampir 30% pembicaraan. Tak ada namanya adu data.

Agaknya, cebong-kampret tak menemukan apa yang mereka cari dalam debat ini. Mereka (sebagaimana kebanyakan warganet) butuh perdebatan yang lebih panas. Pilgub DKI dan Jatim telah memberi gambaran, bagaimana perdebatan itu seharusnya.

Paparan tentang perbandingan mana yang lebih valid dengan menunjukkan angka-angka, prosentase, grafik, dan sebagainya lebih dicari dari sekedar dongeng kisah kampanye, cerita kisah pribadi, atau bahkan imajinasi bertemu nama-nama yang sama sekali tak dapat diuji kebenarannya.

Ya, kami butuh perdebatan yang bermutu. Kami suka pertikaian panas, sepanas perdebatan clan bubur diaduk vs tak diaduk, sekeras pertikaian penikmat soto dipisah dg nasi vs dicampur. Ronde kedua, semoga lebih tajam, setajam tatapan sang moderator malam tadi, Ira Koesno.