Tips Menyimak Debat Kandidat Capres 2019


Kristalisasi pemilih akan muncul saat debat kandidat. Bagi para “diehard” paslon, debat tak memberi efek apapun selain keriuhan dan sorak-sorai bak sedang nonton timnas bertanding di lapangan hijau. Kecebong tak akan pernah tidur terbalik di dahan dan kampret tak kan bobok di kolam, begitu kira-kira.

Tapi tidak bagi para swing-voter. Sedikit atau banyak, debat memberi panduan bagi mereka untuk mengayunkan pendulumnya. Bagian ini mungkin adalah bagian orang-orang yang jenuh atas pelbagai keriuhan antara dua fandom dari paslon yang bersaing, lalu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi langsung dari dua calong lewat layar kaca. Nah, berikut beberapa hal terkait bagaimana menyimak “debat kandidat” dengan baik sebelum akhirnya memutuskan kemana paku hendak di arahkan saat coblosan (ciyee…)

1. Kemampuan Komunikasi. Tentu apa yang masuk dalam kategori ini cukup banyak, mulai dari gaya penyampaian pesan, tinggi-rendah nada (intonasi), aksen, mimik wajah, gerakan tubuh, hingga posisi menghadap. Ada yang suka kepada orang dengan gaya komunikasi berapi-api nan membara. Ada pula yang senang dengan cara yang teduh, mengalir dan tenang. Masing-masing tentu punya kelebihan dan kekurangan.

2. Ketepatan waktu. Setiap perdebatan pasti dibatasi dengan waktu. Kemampuan utuk menyampaikan materi secara tepat waktu (tak melebihi batas, juga tak terlalu sedikit sehingga banyak menyisakan waktu) adalah persoalan yang tidak mudah. Ia harus merangkai kalimat secara efektif dan efisien. Banyak debat kandidat yang menampilkan calon-calon yang berbicra melebihi waktu yang ditentukan, padahal isinya berputar-putar dalam persoalan yang sama.

3. Konten yang disampaikan. Kesesuaian antara materi yang disajikan dengan tema debat adalah hal yang tak kalah penting. Berbicara “out of topic” tentu bulanlah cara bicara yang baik. Apalagi saat ini selain peserta debat tahu tema yang diperdebatkan, mereka juga tahu kisi-kisi pertanyaan yang mana 20% diantaranya akan dikeluarkan oleh panelis. Harapannya, tentu para kandidat dapat menyampaikan materi dengan lebih tepat sasaran.

4. No data=hoax. Memilih data yang tepat menjadi ciri apakah seseorang menguasai permasalahan, atau tidak. Salah data aka melahirkan asumsi yang salah dan dapat berujung pada pengambilan keputusan yang salah pula. Apa jadinya jika seorang dokter salah mendiagnosa, bukankah itu dapat berujung fatal bagi pasien?

5. Fokus pada “Bagaimana itu terwujud”. Sebagaimana laiknya debat kandidat, pasti di dalamnya akan bertebaran janji-janji jika kelak terpilih. Kebanyakan orang fokus pada janji, sehingga jika kelak tidak ditepati, maka dianggap ingkar janji. Sebaiknya, saat debat kandidat penonton fokus pada apa cara yang bisa dilakukan untuk memenuhi janji itu. “Cara” ini menjadi syarat komulatif tercapainya janji tersebut. Selain itu, “cara” tersebut menjadi “conditional term” yang mana jika kondisi itu terpenuhi maka idealnya janjinya juga terpenuhi, namun jika kondisinya tidak memungkinkan, maka wajar jika janji tersebut tidak jalan. Syarat dan ketentuan berlaku, istilahnya. Fokuslah pada syarat dan ketentuan tersebut.

6. Hindari pembahasan serius para “komentatos sosmed”. Untuk urusan yang serius, sosmed bukanlah rujukan yang tepat. Saat anak anda sakit panas, maka mengantarkannya ke dokter adalah lebih baik ketimbang apdet foto dingan caption “aduh, enaknya diobatin apa ya?”. Bukankah hoax-hoax seputar kesehatan di sosmed banyak betedar? Begitu pula dengan politik. Jangan percaya para analis dadakan yang muncul di sosmed.

Pahami apa yang disampaikan oleh para calon, baca dan temukan benarkah data-data yang dipaparkan para calon, serta apakah janji yang dipaparkan realistis lengkap dengan juknis (dan juklak)nya. Jika sudah, kunci rapat-rapat. Timeline dan broadcast dari para politisi dadakan baiknya dijadikan sebagai info yang “just to know” saja, bukan sebagai kabar yang must read, apalagi dijadikan rujukan. Amit-amit dah.

Nah, sudah siap menyaksikan debat kandidat para capres?

source : google images