Politisasi Ayat, Mayat hingga Cawat


 

Nafsu politik sebagian manusia di negeri ini (khususnya para politisi dadakan dan seolah-olah) benar-benar sedemikian parahnya. Ia tak ubahnya lelaki jomblo yang bertahun-tahun tak pernah berjumpa wanita (bahkan sabun-pun tiada). Ketika nafsu di ujung ubun-ubun, ia-pun siap mengejakulasikan syahwat politiknya di mana saja, dengan alat bantu apa saja yang ada. Dan ketika gelombang klimaks itu telah datang, ia semakin tertantang untuk lagi-lagi bermasturbasi politik guna mengejar klimaks-klimaks selanjutnya.

Alkisah, pernah ada yg syahwat politiknya tersalurkan dengan alat bantu bernama ayat. Dalil-dalil mulia-pun dicocoklogi sedemikian rupa untuk bisa memuaskan hasratnya. “Wa laa taqrabaa hadzihis syajarah” dijadikan warning untuk menolak partai tertentu, serta “wa lam yaj’al lahu ‘iwaja, qayyima” dibuat alasan untuk mendukung pilihan dg nomor urut tertentu pula.

Bahkan, kematian tak jua membuat mereka takut lalu menurunkan intensitas berburu klimaks, malah mereka berharap bisa klimaks dengan alat bantu bernama kematian itu sendiri. Menolak mensholatkan jenazah, menolak pemakaman, hinga meminta pembongkaran terhadap jenazah dengan pilihan politik berbeda jelas menunjukkan betapa dahaga mereka ingin menuntaskan hasrat politiknya dengan pelicin apa saja, bahkan dengan cara yang bukan selayaknya manusia sekalipun.

 

Yang unik, cawat-pun jadi bahan imajinasi memuaskan syahwat politik. Untuk syahwat yang lain, mungkin tampak biasa. Pada kasus drama 80juta VA, entah bagaimana ceritanya dua kubu paslon menjadikannya sebagai bahan serangan. Pro oposan menyerang dengan share foto VA yang pernah menulis caption “saya pancasila” yang itu menunjukkan ciri pendukung petahana, sementara pro petahana menjawab dg foto VA bersama salahsatu petinggi oposan. Ingat Lucinta Luna? Ketertarikannya terhadap visi salah satu paslon jelas menjadi bahan adu serang dalam persoalan politik. Bedanya, kasus VA bermula dari kisah cawat yang diseret ke politik, sementara Lucinta Luna adalah isu politik yang dibawa ke ranah cawat. Keduanya tentu berbicara soal cawat (dan isinya).

Menarik memang melihat tingkah polah para pencari kepuasan hasrat politik yang pontang-panting mencari alat bantu untuk menuju klimaksnya. Uniknya, beberapa alat bantu yang digunakan ternyata cocoklogi, hoax, ataupun palsu. Khan kasian. Ibaratnya nemu wadah baby oil dikira bisa dipakai alat bantu, ternyata isinya minyak rem. Jadi aneh deh rasa dan aromanya.

Udah, sarapan dulu yuk, laper khan abis klimaks…