Kebone Ngamuk, Dadahe Remuk


 

Kebone Ngamuk, Dadahe Remuk.

.

.

Sebuah peribahasa jawa menggambarkan, kerbau yang marah hingga membuat sawah menjadi hancur berantakan.

.

Salah satu tugas kerbau adalah membajak sawah, agar menjadi lebih produktif. Nah, jika si kerbau tak mau diajak bekerjasama merawat sawah, bahkan justru marah-marah di atas lahan pertanian, maka yang merasakan kehancurannya bukanlah kerbau itu sendiri, tetapi tanaman sawah yang harusnya dijaga. Tanaman menjadi rusak, tak beraturan, dan tidak lagi produktif.

.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas dan hebat. Produktifitas dan kreatifitas penduduk kita patut diacungi jempol. Lima jempol jika perlu. Cak Nun dalam berbagai kajian Maiyahnya, selalu menceritakan kehebatan warga Indonesia. “Ra duwe penggawean ra duwe bondho wae wani rabi kok,” ungkapnya. Artinya, masyarakat memiiki naluri bertahan hidup ditopang dengan semangat yang kreatif dan produktif.

.

Namun, seringkali produktifitas ini gagal tumbuh hanya karena ada kerbau yang ngamuk-ngamuk di atas lahan. Sebab keinginan dan kehendaknya tak dituruti, banyak politisi yang ngamuk-ngamuk menjadikan rakyat menjadi bagian yang diikutsertakan dalam amukan tersebut. Rakyat jadi bimbang, mosak-masik, dan tentu lupa akan produktifitas. Lupa dengan kreatifitas, baku hantam jadi jalan keluarnya.

.

Saatnya masyarakat kembali pada produktifitas dan kreatifitas yang dimiliki, serta saatnya bagi kerbau untuk tak lagi ngamuk-ngamuk di atas sawah. Saatnya kerbau pulang kandang bersama sapi, kuda, dan binatang lain. Saatnya pula masyarakat kembali pada kehidupannya.

 

Yang berwirausaha, kembali membicarakan upaya pengembangan bisnisnya.

 

Yang guru ngaji, kembali menceritakan kisah nabi-nabi di hadapan santrinya.

 

Yang jomblo, kembali meratapi nasib kesendiriannya.