Potensi Perbedaan Lebaran 2019


Pertanyaan yang sering muncul setiap akhir bulan Ramadhan selain “Kapan THR turun, Kapan Mudik, dan Mana parselan buat saya” adalah, “rioyone sareng nopo mboten?”. Bagi sebagian (besar?) masyarakat, merayakan lebaran dengan keluarga besar, secara bersama-sama adalah anugerah terindah dalam hidupnya.
.
Tentu harus kita sadari bahwa potensi perbedaan awal bulan tetap saja ada. Kita ketahui, selama 5 tahun terakhir, awal bulan Ramadlan, Syawwal dan Idul Adha tidak berbeda antara pemerintah dan dua ormas besar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Meskipun demikian, terdapat organisasi lain yang merayakan lebaran berbeda, tentu dikarenakan metode penentuan awal bulan yang berbeda pula.
.
Bagaimana dengan awal bulan Syawwal 1440 H/2019 M? Apakah ada perbedaan? bagaimana mengolah opor ayam agar tahan lama dikarenakan lebarannya berbeda? Berikut uraiannya :
.
1. Berdasarkan metode Hisab Murni (Hisab Haqiqi Wujudul Hilal), maka tanggal 29 Ramadan 1440 H hilal belum wujud. Sehingga umur Ramadan 1440 H diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari. Maka 1 Syawal 1440 H akan bertepatan dengan tanggal 5 Juni 2019.
.
2. Dengan metode Rukyatul Hilal, menurut data astronomi mustahil hilal dapat terlihat. Jikalau ada yang mengaku melihat, pasti kesaksiannya ditolak, karena posisinya masih di bawah ufuk pada tanggal 29 Ramadan 1440 H. Jika terbukti atau terkonfirmasi bahwa hilal tidak berhasil dirukyat, maka akan diistikmalkan menjadi 30 hari sehingga 1 Syawal 1440 H akan bertepatan 5 Juni 2019.
.
3. Bagi yang menggunakan metode Imkanurukyah (hisab berbasis rukyah) dikarenakan pada tanggal 29 Ramadan 1440 H posisi hilal belum imkan, masih di bawah batas kriteria untuk imkan, maka umur Ramadan 1440 H diistikmalkan menjadi 30 hari sehingga 1 Syawal 1440 H akan bertepatan 5 Juni 2019.
.
4. Berdasarkan penghitungan Hisab Aboge, diketahui bahwa awal tahun (1 muharram) tahun ini jatuh pada Rabu Kemis legi (Bumisgi). Untuk menentukan awal ramadhan digunakan rumus RoNemRo (Romadon Siji Loro) dan untuk menentukan syawal ditambah hitungan WalJiRo (Syawwal Siji Loro), artinya idul fitri jatuh satu hari setelah hari pertama tahun, dan dua pasaran setelah pasaran awal tahun. Berarti jatuh pada Kamis Pahing, 6 Juni 2019.
.
5. Bagi jamaah An Nadzir Gowa, Sulawesi, dikarenakan awal ramadhan jatuh pada 5 Mei, maka besar kemungkinan akan melaksanakan shalat Idul Fitri pada 4 Juni 2019. Ditambah lagi ijtima’ terjadi senin sore pkl 17.04 yang tentu berkaitan dengan pasang-surut air laut yang menjadi salah satu metode penentuan awal bulan An Nadzir.
.
6. Jamaah Naqsyabandiyah dengan metode hisab Munjid telah menetapkan 5 Mei sebagai awal puasa, serta dengan jumlah bilangan hari dalam bulan ramadhan 30 hari, maka shalat id akan dilaksanakan hari Selasa, 4 Juni 2019.
.
Itu tadi gambaran kemungkinan awal lebaran tahun ini. Meskipun terdapat potensi perbedaan, namun mayoritas muslim Indonesia akan melaksanakannya bersama, dan tentu hal ini sama sekali tidak jadi masalah.
.
Justru yang jadi masalah itu, yang udah berkali-kali lebaran tapi tak juga mampu bersama dengan si dia… #eaaa…

@gfpanjalu