Bimbingan Perkawinan Pranikah, Perlukah?


Seorang pengantin baru bilang “setelah menikah, ilmu yang didapat saat berulang kali ikut kursus pranikah seolah tak berguna”, begitu kira-kira ucapannya. Ya, kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah. DI sisi lain, saya yakin kalimat tersebut tidak bermaksud mendelegitimasi pentingnya pembinaan pranikah.
.
Bagi yang hobi memasak, sering merasakan bahwa upayanya di dapur tak seindah paparan buku resep. Bagi anak kos dan pesantren, hasil masakan mi instan favoritnya tak akan seindah (dan selengkap) tampilan di bungkusnya. Apalagi, cara mengolahnya-pun berbeda jauh dengan tuntunan penyajian pada bungkus mi instan. Sering kali anak kos memasak mie instan menggunakan magicom maupun teko plastik yang menggunakan elemen panas. Anak pesantren? Pokoknya ada air (syukur-syukur panas), masukkan dalam plastik mie, diamkan sejenak dan mie instan siap dikonsumsi. Yang lebih bid’ah lagi? Diremas, masukkan bumbu, kocok, siap dimakan. Meskipun demikian, panduan memasak (cooking instruction) tetap diperlukan sebagai pedoman umum bagaimana cara memasak mie yang baik dan benar.
.
Namun di sisi lain ada yang tak kalah penting dari panduan memasak tersebut, yakni mulailah memasak. Sehafal apapun anda terhadap berbagai resep dan menu makanan, jika tak pernah memegang panci, semua itu hanya angin lalu (kecuali jika anda mengajarkannya). Bagi mahasiswa tingkat akhir (seperti saya, wkwkwk), ada yang sama penting dengan membaca teori-teori penulisan dan strategi melakukan penelitian, yakni mulai meneliti dan menulis tugas akhir. Pemahaman terhadap pendekatan penelitian sama sekali tak membantu di hadapan pembimbing/promotor jika belum mulai menulis. Meningkatkan pemahaman teoretis dan membuka laptop untuk menulis tugas akhir adalah sama pentingnya. Camkan itu! (halah, ngapain jadi ceramahin diri sendiri gini? Wkwkwk)
.
Begitu pula dalam perkawinan. Memberikan wawasan umum perihal kehidupan keluarga menjadi kebutuhan bagi seseorang yang hendak melangsungkan perkawinan. Teori hukum, manajerial, komunikasi, hingga persoalan intimasi menjadi bekal penting sebelum menikah. Untuk itulah bimbingan perkawinan pranikah, sekolah persiapan perkawinan maupun ceramah pembekalan calon pengantin sangat perlu. Lagi pula, dalam pelaksanaan bimbingan pranikah idealnya tidak hanya mengedepankan aspek kognitif berupa pemahaman terhadap teori perkawinan semata. Metode diskusi, wawancara, bermain peran, hingga simulasi menentukan masa depan keluarga menjadi bagian tak terpisahkan dari bimbingan perkawinan.
.
Tapi, lagi-lagi yang sama pentingnya dengan belajar berkeluarga adalah, mulailah menata pondasi keluarga. Setelah mengerti cara memasak, segeralah memasak. Sebelum memasak, baca pedoman umum cara memasak. Setelah membaca buku teknik penelitian, segeralah meneliti. Sebelum meneliti, baca panduan penelitian. Setelah paham teori berkeluarga, menikahlah. Sebelum menikah, ikuti pembinaan pranikah dengan baik.
.
Salam.

.

Gandhung Fajar Panjalu bersama mbak-mbak.

Gandhung Fajar Panjalu bersama mbak-mbak.