Menatap Masa Lalu


Yang dilingkari kuning, namanya Saturnus. Ya, nama yang familiar sebagai planet bercincin sekaligus terbesar ke dua di tata surya kita. Jaraknya 1,2 hingga 1,7 milyar kilometer dari bumi.
.
Untuk bisa ke sana, tim NASA yang berangkat tahun 1997 baru tiba tahun 2004, itupun baru pada orbitnya. Apa tidak bisa dipercepat? Jawabnya adalah, butuh kendaraan secepat cahaya. Kabarnya, di sekitar orbit saturnus pernah terdapat lubang cacing (wormhole) untuk menghubungkan dengan dunia lain, sebagaimana dalam film Interstellar.
.
Dengan jarak demikian jauh, sekitar 8 kali jarak bumi-matahari, maka cahaya yang tampak pada mata kita saat menatap saturnus adalah apa yang terjadi di sana, satu jam lalu (+- 64 menit).
.
Lho, bukankah saturnus tidak memiliki cahaya sendiri, dan sekedar memantulkan cahaya matahari? Benar. Artinya, cahaya matahari berjalan merambat ke saturnus, lalu memantul dan ditangkap mata kita. Untuk itu butuh waktu 2 jam seperempat (136 menit) cahaya dari matahari sebagai sumbernya, sampai di mata kita seusai transit di saturnus. Jika matahari padam (mungkin karena listriknya dicabut Perusahaan Listrik Tata surya-PLTS), kita masih dapat menikmati cahaya saturnus 2 jam sebelum akhirnya ia ikutan gelap pula.
.
Yang dilingkari hijau, namanya Albaldah. Sekilas dengar namanya, tentu bisa menebak dari bahasa manakah nama bintang tersebut diambil. Ia bintang yang bermakna “kota” dalam bahasa arab. Masyarakat arab yang semenjak lama menggunakan bintang di langit sebagai patokan bernavigasi memiliki sumbangsih besar dalam memberi nama bintang-bintang. Bintang Albaldah ini jadi bagian dari rasi bintang Sagitarius. Sebagai bintang, ia mengeluarkan cahaya sendiri, seperti halnya matahari.
.
Jaraknya 509 tahun cahaya. Artinya, cahaya Albaldah apa yang masuk ke indera penglihatan kita saat ini adalah apa yang terjadi lima abad yang lalu, saat sisa-sisa kerajaan Majapahit ditaklukkan oleh kerajaan Demak Islam.
.
Lapisan tipis di bagian bawah dari dua lingkaran tersebut, adalah sabuk Milkway. Di dalamnya terdapat milyaran titik berupa bintang, yang tentu jaraknya lebih jauh lagi. Ukurannya terlihat sangat kecil, namun aslinya mungkin lebih besar dari bumi kita. twinkle-twinkle little star, oh I wonder how big you are.
.
Apa yang kita lihat saat ini di hamparan langit, bukanlah hal yang langsung sedang terjadi saat ini juga. Benda yang kita lihat saat ini, mungkin ia sudah bergeser dari tempatnya, atau mungkin telah hancur berkeping-keping.
.
Allah mengisyaratkan ini dalam QS Waqi’ah ayat 75-76, :
.
فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (76)
.
Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang (75) Sesungguhnya itu adalah sumpah yang besar jika kamu mengetahui (76)

Allah bersumpah demi “mawaqi’ al-nujum”, bukan demi al-nujum itu sendiri. Sebab, apa yang kita sangkakan saat ini bahwa di satu tempat sedang ada najm (bintang), boleh jadi di tempat tersebut saat ini sudah tidak ada apa-apa lagi, karena apa yang terlihat di mata kita hanyalah jejak posisinya, mawaqi’nya. Wallahu a’lam.
.
.
Catatan :
1. Foto diambil 10/6 pkl 04.51 di daerah Bojonegoro. Malam di sini cukup menyiksa pecinta malam dengan kamera HP yang kurang mumpuni, seperti saya.
2. Buat para “mblo”, jika kalu lihat bintang hatimu memancarkan cahaya padamu, jangan Ge-eR. Mungkin orbit hatinya sudah bergeser darimu. 😂😂😂