Belajar dari Ketahanan Keluarga Nabi Ibrahim – Naskah Khutbah Idul Adha 1440 H / 2019 M


Belajar Dari Ketahanan Keluarga Nabi Ibrahim AS[1]

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. الله أكبر، الله أكبر، و للّه الحمد.

Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha yang dirahmati Allah

Hari ini kita kembali berlebaran bersama ratusan juta muslimin di seluruh dunia. Kita tinggalkan rumah, bergerak menuju tempat shalat untuk menggemakan takbir bersama, melakukan shalat berjama’ah, mengagungkan kebesaran Allah serta bersyukur atas berbagai limpahan nikmat dari-Nya. Salah satu bentuk dari rasa syukur tersebut adalah ibadah berkorban pada Hari Raya Idul Adha dan Hari Tasyrik. Allah SWT berfirman:

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al Kautsar  ; 1-2).

Sementara itu, di tempat lain, saudara-saudara kita, ummat muslim dari berbagai penjuru bumi sedang memenuhi panggilan Allah dengan bentuk melaksanakan ibadah Hajji. Beragam suku, beraneka budaya, bermacam warna kulit, pria maupun wanita, memenuhi kewajiban sebagaimana dalam rukun Islam ke-lima. Semoga mereka diberi kesehatan, kekuatan, serta diterima ibadahnya sehingga menjadi hajji yang mabrur. Selain itu, bagi muslim lain yang belum mendapatkan kesempatan dan kemampuan melaksanakan Ibadah Hajji, semoga segera dipanggil oleh Allah untuk hadir di Baitullah. Amin.

Suasana ibadah Hajji, Idul Adha serta melaksanaan Qurban mengarahkan kenangan kita kepada sosok-sosok yang harus  diteladani,  tidak hanya oleh kita, tapi juga oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ 

Sesungguhnya  telah  ada  suri  teladan  yang  baik  bagimu  pada  Ibrahim  dan orang-orang yang bersama dengannya (QS Al Mumtahanah ; 4)

Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha yang dirahmati Allah

Salah satu yang amat kita butuhkan dalam hidup ini adalah mendapatkan figur-figur teladan yang bisa memberi warna positif dalam kehidupan kita. Karena itu, Allah swt menjadikan Nabi Ibrahim as dan keluarganya sebagai figur teladan sepanjang masa. Nabi Ibrahim AS bersama orang-orang di sekitarnya menjadi hal yang melatarbelakangi ditetapkannya berbagai syariat dalam Hukum Islam dan mash dilaksanakan hingga saat ini seperti halnya disyariatkannya khitan, prosesi ibadah Hajji serta penyembelihan hewan kurban.

Salah satu hal yang dapat kita ambil teladan dari Nabi Ibrahim AS adalah perihal bagaimana kehidupan keluarganya, serta bagaimana mewujudkan ketahanan dalam keluarga. Keluarga merupakan pertemuan antara sedikitnya dua orang yang disatukan melalui perkawinan. Mempertahankan kesatuan tersebut bukanlah perkara mudah.

Hampir setiap pengadilan agama menunjukkan adanya peningkatan angka perceraian tiap tahunnya. Pengadilan Agama Surabaya misalnya, terjadi peningkatan angka perceraian antara tahun 2017 dengan tahun 2018, meningkat sebesar 11,5 persen. Selama tahun 2018 Pengadilan Agama Surabaya memutus 5.440 perkara terdiri dari 1.655 permohonan cerai talak dan 3.785 gugatan cerai. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, pada 2017 telah memutus 4.876 perkara terdiri dari 1.551 permohonan cerai talak dan 3325 gugatan cerai.

Maka, menjadi tugas kita bersama untuk terus belajar, bagaimana cara agar ketahanan keluarga kita benar-benar terwujud. Salah satunya kita belajar dari keluarga Nabi Ibrahim AS. Ketahanan keluarga Nabi Ibrahim AS terjadi karena keluarga tersebut benar-benar mampu memahami setiap fungsi keluarga secara baik.

Sebagaimana kita tahu, keluarga memiliki delapan fungsi, yakni :

Pertama, fungsi agama. Dalam hal ini, keluarga memiliki tugas untuk melestarikan pelaksanaan ajaran agama dengan baik pada setiap anggota keluarganya. Oleh karenanya setiap membangun keluarga senantiasa diawali dengan ikatan suci yang disebut pernikahan. Ketika memilih jodoh, Nabi Ibrahim tidak mempertimbangkan aspek fisiologis berupa kekayaan dan kecantikan. Hal yang penting sebagai kriteria pasangan baginya adalah aspek keagamaan. Itulah mengapa Nabi Ibrahim berkenan dinikahkan dengan Hajar, seorang mantan budak yang berasal dari qibthi yang terkenal berkulit hitam dan berambut ikal. Meskipun hajar tidak memiliki kesempurnaan dalam hal kecantikan maupun status sosial, akan tetapi ia memiliki pemahaman agama dan keimanan yang kuat. Ketaatan Nabi Ibrahim beserta putranya yakni Ismail untuk melaksanakan wahyu berupa penyembelihan merupakan bentuk bagaimana agama menjadi hal yang dinomorsatukan dalam keluarga tersebut. Allah berfirman :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash Shaffat ; 100-102)

Kedua, fungsi kasih-sayang. Rasa cinta merupakan hal penting untuk terus dilestarikan dalam keluarga, agar supaya keluarga tersebut tetap bertahan dari berbagai goncangan dan godaan. Kasih sayang yang terjadi dalam keluarga Nabi Ibrahim tampak sebagaimana dalam ayat yang telah khathib baca sebelumnya, di mana Nabi Ibrahim memanggil putranya dengan panggilan kesayangan, “yaa, bunayya”, wahai putraku. Kata “yaa bunayya” memiliki makna tashghir, yang mana pemanggil menyamakan yang dipanggil seperti anak kecil untuk menunjukkan kasih sayang. Dalam bahasa jawa, kita sering mendengar seorang bapak memanggil anaknya yang sudah dewasa dengan panggilan “ngger, bocah lanang”, dan sejenisnya. Bukan untuk mengkerdilkan dan menganggap bahwa anaknya masih kekanak-kanakan, tetapi untuk menunjukkan kasih sayang orang tua yang tidak berubah sebagaimana ia menyayangi anaknya saat si anak masih kecil.

Ketiga, fungsi perlindungan. Keluarga hendaknya menjadi tempat yang aman baik secara fisik maupun psikis bagi seluruh anggota keluarganya. Apabila seseorang berada dalam masalah dan tekanan, hendaknya ia merasa aman dari tekanan tersebut ketika kembali kepada keluarganya. Hal ini pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Sadar bahwa ada kecemburuan antara istri-istrinya, serta dalam rangka melindungi keluarganya khususnya dalam hal psikis sebagai akibat dari kecemburuan tersebut, ia mengajak istrinya yakni Hajar untuk keluar dari daerah tempat tinggalnya. Kemudian, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar bersama bayi Ismail di sebuah lembah, namun tidak lupa nabi Ibrahim menitipkan istri dan anaknya dan memohon perlindungan kepada zat yang maha melindungi, yakni Allah. Dapat kita baca dalam firman Allah :

.‎

‏ رَبَّنَآ إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ ‏أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Allah Ya Tuhan kami ! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di satu lembah yang tidak ada pepohonan di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Allah ! Mampuhkan mereka untuk bisa melaksanakan shalat, jadikan hati  manusia merindukan mereka dan anugrahkan rezeki kepada mereka  dari berbagai buah-buhan agar nereka bersyukur (QS  Ibrahim ; 37)

Keempat, fungsi sosial budaya. Keluarga adalah tempat pertama kali semua anggotanya mendapatkan pengertian dan penanaman nilai-nilai sosial budaya yang ada di tengah masyarakat. Sikap hidup, tata nilai, etika, sopan santun, budi pekerti yang baik, didapatkan dan ditanamkan sejak awal dalam kehidupan keluarga. Dalam mendidik keluarganya, Nabi Ibrahim berupaya semaksimal mungkin untuk memilah mana budaya yang baik dan mana yang buruk. Mana yang diridlai Allah dan mana yang sesat. Dapat kita baca dalam firman Allah :


وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ اْلأَصْنَامَ {35} رَبِّ إِنَّهُنَّ ‏أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ {36}

Dan perhatikan ketika  Ibrahim berdo’a :” Tuhanku ! Jadikanlah negri ini negri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala. Tuhanku ! Sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan banyak manusia. Barangsiapa mengikutiku maka ia termasuk golonganku dan siapa yang mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Ibrahim ; 35-36)

Kelima, fungsi reproduksi. Salah satu tujuan seseorang menikah adalah untuk memiliki generasi penerus. Setelah melangsungkan pernikahan dengan Sarah, nabi Ibrahim tak henti berupaya dan berdoa, memohon agar diberikan keturunan. Hal yang sama dilakukan seusai menikah dengan Hajar. Hingga setelah sekian tahun menikah akhirnya pernikahan Ibrahim dengan Hajar menghasilkan keturunan yakni Ismail. Kemudian, seiring perjalanan waktu, Ibrahim mendapatkan keturunan dari Sarah, bahkan saat sarah telah berusia 99 tahun. Ini tergambar firman Allah :

قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh”. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”. (QS Hud ; 72-73)

Keenam, fungsi sosialisasi dan pendidikan. Sebuah keluarga memiliki fungsi edukatif, di mana setiap anggota keluarga berkewajiban mencerdaskan keluarganya dan memberii bekal pengetahuan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Nabi Ibrahim selalu mengupayakan agar keluarganya menjadi keluarga yang bijaksana serta mampu menjadi pendidik dan penutur yang baik bagi lingkungannya. Hal tersebut sebagaimana terlihat dalam firman Allah :

رَبِّ هَبْ لى حُكْماً وَأَلْحِقْنى‏ بِالصَّالِحينَ. وَاجْعَلْ لى‏ لِسانَ صِدْقٍ فى‏ الآخِرينَ. وَاجْعَلْنى‏ مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعيمِ

83. (Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, 84. dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian, 85. dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan. (QS Asy-Syu’araa 83-85)

Ketujuh, fungsi ekonomi. Persoalan ekonomi pada keluarga merupakan hal yang cukup vital. Fungsi ekonomi pada keluarga bukan hanya seputar bagaimana keluarga tersebut mampu mencari rezeki secara banyak, namun juga dituntut bagaimana agar rezeki yang didapat adalah rezeki yang halal. Selain itu, fungsi ekonomi dalam keluarga juga bermakna bagaimana keluarga tersebut mampu berbagi secara finansial dengan orang lain yang membutuhkan. Keluarga Nabi Ibrahim dikenal sebagai keluarga yang dermawan. Setiap makan, Nabi Ibrahim biasa mengajak orang lain untuk diajak makan bersama. Selain itu, ia berupaya semaksimal mungkin agar harta yang ia dapatkan merupakan harta yang halal. Ia pernah mengingatkan bapaknya yang bekerja sebagai pemahat berhala, agar berhenti dari pekerjaannya dan agar tidak lagi menyembah berhala, sebagaimana dalam firman Allah :

وَ إِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَ تَتَّخِذُ أَصْناماً آلِهَةً إِنِّي أَراكَ وَ قَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS An’am [6]:74).

Kedelapan, fungsi pembinaan lingkungan. Artinya, setiap keluarga harus menjadi teladan yang baik bagi keluarga sekitarnya, agar menghasilkan lingkungan yang baik karena diisi oleh beberapa keluarga yang baik pula. Nabi Ibrahim selalu berupaya dan berdoa agar dirinya, keluarganya dan lingkungannya dijadikan sebagai diri, keluarga dan lingkungan yang baik di hadapan Allah. Terdapat salah satu ayat yang mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim mendoakan masyarakat sebuah negara agar menjadi lingkungan yang baik, sebagaimana firman Allah :

رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَداً ءامِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ مَنْ ءامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. (QS Al Baqarah 126)

Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha yang dirahmati Allah

Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran keluarga diharapkan mampu untuk semakin meningkatkan ketahanan keluarga. Dalam hal ini, belajar pada kisah Nabi Ibrahim AS, kita tentu harus berupaya semaksimal mungkin serta berdoa agar keluarga kita menjadi keluarga yang baik, berfungsi sebagaimana mustinya, serta menjadi keluarga yang sakinah dengan selalui diliputi mawaddah atau rasa sayang, darahmah atau cinta kasih.

Akhirnya, marilah kita berdoa agar supaya Allah menjadikan diri kita, keluarga kita dan lingkungan kita mampu menjadi keluarga yang baik, dan terus bersama-sama berkeluarga dan bertetangga di dunia, serta kelak bisa berkeluarga dan bertetangga di syurga. Amin


اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

رَبِّ هَبْ لى حُكْماً وَأَلْحِقْنى‏ بِالصَّالِحينَ . وَاجْعَلْ لى‏ لِسانَ صِدْقٍ فى‏ الآخِرينَ . وَاجْعَلْنى‏ مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعيمِ

رَبَّنا عَلَيكَ تَوَكَّلْنا وَإِلَيْكَ أَنَبْنا وَإِلَيْكَ المَصيرُ . رَبَّنا لا تَجْعَلْنا فِتْنَةً لِلَّذينَ كَفَروُا وَاغْفِرْ لَنا رَبّنا إنَّكَ أَنْتَ الْعَزيزُ الْحَكيمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Selengkapnya, download KLIK DISINI!!

Gandhung Fajar Panjalu

[1] Oleh Gandhung Fajar Panjalu, M.H.I. Ketua Prodi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya. Disampaikan dalam Khutbah Idul Adha Tahun 1440 Hijriyah / 2019 Masehi.