Dukungan Keluarga Di Balik Perjuangan Kemerdekaan



.
Dalam kondisi hamil tua, Fatmawati mengoperasikan mesin jahit bermerk ‘singer’. Ia mengoperasikan mesin jahit dengan tangannya, karena dokter melarang Fatmawati menggerakkan kakinya di atas mesin jahit disebabkan kehamilannya. Akhirnya, bendera ukuran 2×3 meter tersebut selesai dan siap digunakan dua hari kemudian. Saat ini, mesin jahit tersebut berada di dalam Rumah Fatmawati di daerah Bengkulu, salah satu destinasi yang sempat saya kunjungi beberapa pekan silam.
.
Sebuah kisah yang menggambarkan betapa seorang Soekarno memiliki keluarga yang siap mendampingi dan mendukung setiap usaha yang ia lakukan. Fatmawati, istri ke tiga Bung Karno yang menjadi ibu negara pertama Republik Indonesia benar-benar menunjukkan dukungannya terhadap perjuangan sang suami, bahkan dalam kondisi yang renta sekalipun.
.
Fatmawati adalah keturunan putri Indrapura, salah satu keluarga raja dari Kesultanan Indrapura, Sumatera Barat. Ayah dari Fatmawati adalah Hasan Din, pengusaha, tokoh Persyarikatan Muhammadiyah di Bengkulu, juga Direktur Bank Muslim Indonesia. Kedekatan Fatmawati dengan Muhammadiyah (dan Aisyiyah) dapat dibaca pada buku berjudul “Muslimah Berkemajuan, Sepenggal Riwayat Fatmawati dan ‘Aisyiyah-Muhammadiyah” terbitan Suara Muhammadiyah.


.
Kembali pada kisah dukungan Fatmawati terhadap upaya kemerdekaan Republik Indonesia, tentu ini bukan hanya terjadi pada keluarga Soekarno. Meskipun Bung Hatta menikah usai kemerdekaan RI (sebagaimana sumpahnya untuk tidak menikah sebelum RI merdeka), namun perjuangan Yuke (memiliki nama asli Rachmi Rahim), istri Bung Hatta untuk mempertahankan kemerdekaan RI merupakan perjuangan yang sama beratnya. Hingga saat Bung Hatta diasingkan, Yuke tetap setia mendampingi suaminya. Bukan hanya Bung Karno dan Bung Hatta, banyak kisah dari berbagai tokoh yang menunjukkan betapa besar peran keluarga untuk meraih serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
.
Betapa keluarga para tokoh tersebut memiliki ketahanan yang kuat. Tidak mudah goyah karena berbagai goncangan yang ada, bahkan pada saat yang kritis sekalipun. Dalam persoalan keluarga, dikenal teori VSA yang menghubungkan antara Vulnerability (kerentanan bawaan latar belakang), Stressfull Events (tekanan yang muncul) dan Adaptive (kemampuan beradaptasi). Sebuah keluarga terdiri dari latar belakang kehidupan yang berbeda. Selain itu, dalam perjalanannya, setiap keluarga akan menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Jika keluarga tersebut mampu menghadapi permasalahan perbedaan latar belakang serta mampu beradaptasi dengan goncangan yang muncul, maka dapat dipastikan keluarga tersebut akan tetap bertahan, dan menjadi keluarga yang kuat.
.
Keluarga yang kuat, akan melahirkan lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara yang kuat pula. Dirgahayu Republik Indonesia.

Leave a comment