Pembaharuan Hukum Keluarga Berbasis Kearifan Lokal


“Siapapun yang menikah di bawah umur, wajib meminta ijin kepada Pak Camat dengan membayar denda berupa satu bibit pohon durian kualitas terbaik”. Begitu salah satu info yang saya dapat dari salah satu warga Wonosalam, Jombang.
.
Meski tidak menjadi pendamping KKN, hari ini (4/8) saya berkesempatan menjadi pemantik diskusi antara peserta KKN UMSurabaya bersama masyarakat di Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Jombang. Diskusi bertema “Penyuluhan dan Pendampingan Manajemen Keluarga”.
.
Berbagai temuan menarik muncul dalam diskusi ini. Misal, terkait betapa pentingnya peran lembaga keagamaan dalam memberikan bekal bagi pasangan yang hendak menikah. Salah satu jemaat GKJW menceritakan adanya kewajiban Katekisasi (pembekalan) pranikah selama 2 bulan di gerejanya.
.
Selain itu, pemerintah membuat aturan guna menekan angka perkawinan di bawah umur. Salah satunya adalah bagi remaja di bawah umur yang hendak menikah, selain mengajukan dispensasi ke pengadilan, juga harus seijin Pak Camat serta wajib membayar denda berupa satu bibit pohon durian kualitas terbaik. Sebagaimana kita tahu, Wonosalam adalah salah satu daerah yang terkenal dengan duriannya.
.
Ini merupakan bentuk pelaksanaan (dan pembaharuan) seputar hukum keluarga, dengan didasarkan pada kearifan lokal. Daerah-daerah lain tentu dapat melakukan hal yang sama, tentu didasarkan pada lokalitas masing-masing. Misal, menyumbang bibit tanaman untuk taman kota, menanam pohon mangrove di tepi laut, menebar benih ikan jenis tertentu, dan hal lain yang serupa sebagai denda bagi pihak yang ingin melangsungkan pernikahan saat usianya belum memenuhi batas minimum.
.
Dari diskusi kami bersama warga dan para peserta KKN, diketahui bahwa aturan itu muncul karena melihat meningkatnya angka perkawinan dini di lokasi tersebut. Usut demi usut, mereka menikah di bawah umur karena faktor kebobolan (hamil duluan).
.
Di sini, dibutuhkan peran aktif seluruh pihak untuk memberikan bekal bagi remaja agar betul-betul menyiapkan perkawinan, baik secara fisik maupun psikis. Istilah “Qowiyyun Amin” menjadi gambaran bahwa untuk menikah, butuh kesiapan fisik maupun mental spiritual. Betapa banyak remaja dengan fisik yang matang, tetapi belum memiliki kesiapan psikis saat melangsungkan pernikahan. Kesiapan fisik meliputi kesehatan, finansial, dan hal-hal bernuansa fisiologi lain. Sementara kesiapan psikis berupa kematangan emosi, ketahanan mental, serta kekuatan spiritual.
.
Selain itu, majelis agama maupun berbagai lembaga terkait berkewajiban melakukan pendampingan bagi jamaahnya yang telah menikah agar mampu mengelola setiap konflik yang melanda rumah tangganya.
.
Akhirnya, selamat dan sukses agenda KKN 2019 UMSurabaya, semoga dapat belajar, berbagi dan berdaya bersama masyarakat.