Seks & Perkawinan sebagai Kebutuhan Manusia


Seks menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia pada level pertama. Pada level kedua ada kebutuhan rasa aman (termasuk untuk berhubungan seks), lalu kebutuhan mencintai & dicintai pada level ketiga. Kebutuhan terhadap eksistensi dan aktualisasi diri berada pada level selanjutnya, ditutup dengan kebutuhan yang bersifat transendensi. Ini yang dikenal sebagai teori 5+1 kebutuhan manusia menurut Maslow. 5 teori berada pada bukunya terdahulu, dan 1 menyusul kemudian. Imbasnya, persoalan seks, cinta dan pernikahan menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
.
Selama masih ada orang yang ingin menikah, maka kebutuhan akademis dan praktis terhadap ilmu keluarga akan terus berlangsung. Bagaimana persoalan hukum sebelum menikah, selama menjadi suami-istri, serta setelah pernikahan usai menjadi pelajaran penting yang wajib diketahui. Beberapa bagian dasar atas ilmu tersebut bahkan dapat dikatakan memiliki tingkat kewajiban bersifat fardlu ain.
.
Persoalan menata diri menjadi jodoh terbaik calon idaman mertua, mengelola konflik dalam keluarga, mewujudkan romantisme dan harmoni dalam rumah tangga, hingga pengasuhan anak menjadi ilmu yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap orang yang menikah.
.
Tentu teori dalam pernikahan bersifat lentur. Setiap pasangan dengan usia perkawinan yang cukup lama, akan memiliki teorinya masing-masing untuk mempertahankan keluarga. Sama seperti seorang chef yang memiliki resep andalannya masing-masing. Namun, teori dasar dari memasak (semisal membedakan antara laos, jahe dan kencur) adalah hal yang tak bisa diabaikan oleh chef tersebut.
.
Memberikan bekal ilmu keluarga bagi generasi muda, menjadi salah satu upaya membangun bangsa. Keluarga yang baik akan melahirkan lingkungan, wilayah, negara dan bangsa yang baik pula.
.
Gandhung Fajar Panjalu
-Ketua Prodi Hukum Keluarga, UMSurabaya.
– Mahasiswa Doktoral Hukum Keluarga, UIN Walisongo Semarang.
#WalimatulUrsy
#SemogaSakinah