Kala Sinta Gandrung Rahwana


“Harusnya, aku mengantarmu menemui ajal. Namun entah mengapa, aku tak bisa…”.

Menetes air mata Sinta, meski ia tak tahu apa arti tangisnya. Boleh jadi itu adalah air mata bahagia, melihat Rama, kekasih hatinya datang menjemput. Namun di sisi lain, ia merasa sedih karena akan berpisah dengan Rahwana, pria yang beberapa tahun lalu menculik dan membawanya ke Alengka, kerajaan para durjana.

Ia sadar, Rahwana jauh dari kata sempurna. Tubuh Rahwana memiliki sepuluh kepala dan dua puluh tangan. Dengan sepuluh kepala, Rahwana bisa menampakkan wajah marah, benci, lembut, bijak dan lain-lain pada saat yang sama. Kesepuluh kepala rahwana dapat digunakan untuk berfikir bersama sehingga tak ada satupun warga Alengka yang meragukan kecerdasannya. Rahwana bekerja dengan sangat cekatan berkat dua puluh tangan yang dimiliki.

Seluruh penduduk Alengka benar-benar tunduk pada Rahwana. Bahkan, pada raksasa yang beringas-pun tak mampu berkutik. Rahwana memiliki senjata pedang berbentuk bulan sabit, hadiah dari Dewa Siwa karena menganggap Rahwana sebagai pemuja yang cerdas dan setia.

Kecerdasan dan kesetiaan itu pula yang kini menjerat hari Sinta. Semenjak ditawan, ia dimuliakan oleh Rahwana. Jangankan menyentuhnya, Rahwana memberikan segala daya-upaya untuk menunjukkan rasa cinta kepada Sinta. Selama tiga tahun, Rahwana mencurahkan perhatiannya kepada Sinta. Tiga tahun pula Sinta merasakan kegelisahan dalam hati. Ia tak ingin mengkhianati Rama. Namun, kebaikan dan perlakuan Rahwana benar-benar membuatnya terbuai.

“Demi apapun, aku siap melakukan apa saja untuk mendapat cintamu”, kata Rahwana. “Jujur, aku telah salah menilaimu. Awalnya aku kira kau adalah makhluk terburuk di muka bumi. Namun, setelah lama berada di sini, aku yakin bahwa hatimu sangatlah mulia. Dalam hatiku-pun mulai muncul benih-benih rasa cinta kepadamu. Namun, tak mungkin pula aku meninggalkan kekasihku. Tolong, kembalikan aku kepada Sri Rama”, kata Sinta. Sebuah penolakan yang menyedihkan namun merdu di telinga Rahwana. Ia yakin bahwa Sinta mulai ada rasa kepadanya. Namun, hubungan Sinta dengan Rama sudah cukup membekas di hati yang sehingga Sinta tak mungkin mau berpaling begitu saja. Rahwana bertekat, harus menghabisi Rama demi memuaskan dahaga cintanya.

Beberapa saat lalu, Hanuman datang menyusup ke Alengka untuk menjemput Sinta. Sejatinya, saat itu Sinta sudah mulai merasakan galau. Bisa saja ia ikut Hanuman dan kabur dari kamar mewah tempat ia disekap di Alngka. Namun, ia belum siap berpisah dengan Rahwana. “Tolong sampaikan, aku hanya mau pulang jika dijemput langsung oleh Sri Rama”, begitu kata Sinta kepada Hanuman.

Ia awalnya hanya berfikir pesan tersebut memiliki makna penundaan, artinya ia akan sedikit lebih lama berada di Alengka, serta akan terus menerima penghargaan dan pelayanan dari Rahwana. Namun yang terjadi, lebih dari itu. Meminta kekasihnya untuk datang menjemput berarti akan terjadi perang antara dua raja, dan ribuan prajurit dari dua kerajaan berbeda.

Hari ini, hal itu terjadi. Sinta bimbang. Ia yakin Rama akan mengalahkan Rahwana. Namun, ia tak tega jika sampai Rahwana meregang nyawa. Semalam, Sinta membersihkan baju besi dan menyiapkan pedang perang Rahwana.

“Aku pernah berburuk sangka kepadamu. Sebelum akhirnya aku merasakan betapa besar cintamu. Aku sadar, aku tak bisa memberikan apa yang kai mau. Namun, ijinkan hari ini aku berbhakti sekedar membalas kebaikanmu. Kini, Sri Rama telah datang menjemputku. Aku akan bersiap menyambut kekasihku. Engkau berangkatlah, temui takdirmu…” kata Sinta sebelum Rahwana berangkat ke medan pertempuran dan mati di tangan Sri Rama.

–=+=–