Menawar Maklumat


Beberapa saat sebelum masuk bulan Ramadan, berbagai organisasi masyarakat maupun para tokoh agama telah mengeluarkan maklumat terkait bagaimana pelaksanaan ibadah puasa di tengah era pandemi covid-19 ini.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki fatwa MUI nomor 14 tahun 2020 tanggal 16 Maret 2020. Menteri Agama memiliki surat edaran nomor 6 tahun 2020. PP Muhammadiyah mengeluatkan surat edaran Nomor 02/EDR/I.0/E/2020 tertanggal 24 Maret 2020, menyempurnakan Surat Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 02/MLM/I.0/H/2020 tentang Wabah Coronavirus Disease (Covid-19) dan Nomor 03/I.0/B/2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Fardu Berjamaah Saat Terjadi Wabah Coronavirus Disease (Covid-19). Terdapat pula Surat Instrukti PBNU Nomor 3945/C.I.34/03/2020 tentang Protokol NU Peduli Covid-19 dan Surat Instruksi Nomor 3952/C.I.34/03/2020 pada 3 Maret 2020 atau 9 Sya’ban 1441 H. Serta berbagai maklumat lain dari institusi yang berwenang.

Hal penting yang muncul dari maklumat tersebut berupa ajakan untuk tetap menyemarakkan bulan Ramadan, namun dengan cara berbeda. Salah satunya adalah aktifitas yang biasanya dilakukan secara kolektif, harap tidak dilakukan selama masa pandemi ini.

Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan ibadah secara bersama-sama yang dilakukan di rumah ibadah. Setelah sebelumnya terdapat maklumat terkait pelaksanaan Shalat Jum’at, kini ditambah lagi dengan maklumat pelaksanaan Shalat Tarawih. Dianjurkan untuk melaksanakan qiyamul lail Ramadan di rumah saja, bersama keluarga.

Tampaknya, pada lapisan akar rumput tidak sedikit yang mencoba menawar maklumat tersebut. Mereka tetap melaksanakan Shalat Tarawih berjamaah, meskipun dengan dalih telah menerapkan protokol keamanan tertentu mulai dari penjarakan antar jamaah, penggunaan masker, cuci tangan sebelum masuk tempat ibadah, dan sebagainya. Bahkan, ada pula yang nekat melaksanakan meski dengan protokol minimalis, hanya cuci tangan dengan air sebelum masuk musolla, tanpa kewajiban masker apalagi penjarakan.

Penawaran terhadap maklumat ini bahkan menjadi pembangkangan, karena dilakukan oleh tokoh agama maupun ormas tingkat lokal yang seharusnya menjadi corong penyampai sekaligus teladan pelaksana maklumat, namun justru berpendapat bertentangan dengan apa yang telah diumumkan.

Uniknya, para penawar tersebut bersikokoh melaksanakan tarawih berjamaah, namun meniadakan agenda tadarrus dengan alasan menghindari potensi kerumunan. Entahlah, saya yang dla’if ini belum pernah menemukan kerumunan antri bertadarrus di masjid/musholla desa, yang menyamai atau lebih ramai dari kerumunan jamaah tarawihnya.

Ada beberapa hal dijadikan alasan para takmir tetap menggelar Shalat Tarawih berjamaah. Antara lain, kesulitan menemukan cara menyemarakkan Ramadan jika tak ada tarawih. Ada pula yang beralasan karena masjid atau musholla lain (terlebih yang berbeda paham keagamaan) melakukan jamaah, khawatir kalah pamor.

Ada pula yang beranggapan bahwa wilayahnya masih aman, sehingga merasa belum perlu mengikuti maklumat tersebut. Bahkan, ada pula masyarakat tertentu yang beralasan ingin tetap Shalat Tarawih berjamaah berdasarkan Quran Hadits, tidak didasarkan pemahaman ulama saat ini. “Lagipula, tidak perlu takut jika harus mati saat Shalat Tarawih”, katanya.

Penawaran-penawaran tersebut mustinya sama sekali tidak boleh dilakukan, khususnya saat pandemi semakin mewabah saat ini. Maklumat tersebut bukan hanya diberikan kepada daerah zona merah saja. Namun, berlaku juga bagi daerah zona oranye, bahkan zona hijau sekalipun. Mengapa? Tentu agar daerahnya tidak “naik kelas” menjadi zona oranye, terlebih menjadi zona merah.

Unik memang, apalagi jika masih ada yang beralasan “kan provinsi kita belum”, setelah provinsinya kena, masih berdalih “kan kabupaten kita belum”. Lalu turun lagi, “kan kecamatan kita belum, setelah kecamatan kita belum, kan desa kita belum, kan belum ada jamaah musolla kita yang kena”, dan seterusnya, kira kira begitu ilustrasinya. Ada saja yang berfikiran menunggu korban dari lingkungan atau keluarga, na’udzubillah.

Logika ini pula yang juga biasa digunakan penganut teori konspirasi. Menganggap peledakan bom yang sempat viral itu hanya drama semata, sampai benar-benar ada bom yang meledak dihadapannya. Sama konyolnya dengan yang menganggap penyakit ini seolah mitos belaka, bahkan menantang untuk dimasukkan dalam tubuhnya.

Alasan dalam rangka tetap menyemarakkan Ramadan, apalagi agar tidak kalah pamor dengan masjid lain, juga menjadi alasan yang harusnya dihindari. Kaidah yang digunakan sama dengan kaidah saat muncul maklumat peniadaan kegiatan Shalat Jumat di masjid, bahwa mencegah bahaya lebih diutamakan daripada mengambil kebaikan. Terlebih, kita tidak tahu bahwa apakah benar jamaah yang hadir sepenuhnya negatif dari virus, karena bisa saja ada orang yang membawa virus meski tanpa gejala. Alasan tak takut mati karena Tarawih, juga menunjukkan egoisme yang harusnya semakin dipendam saat puasa.

Alasan tetap melaksanakan Tarawih berjamaah karena ingin sesuai Quran dan Hadits, justru menunjukkan bahwa ia belum sempat membaca lebih dalam berbagai nash maupun kisah nabi dan para sahabat seputar shalat qiyamul lail pada bulan Ramadan. Apalagi jika menganggap maklumat yang muncul tidak sesuai dengan nash. Lha, dikira ulama betijtihad dan melakukan istinbath hukum pakai apa? Mujarrobat?

Semoga kita tidak menjadi penawar maklumat.