Stop Bilang “Enakan Elu”


Berbagai guyonan lawas yang dulu lucu, mendadak garing, bahkan menjadi “dark joke” jika dilontarkan saat ini. “Jual kalender yang tanggal merahnya banyak”, misal. Guyonan rutin tiap awal tahun tersebut kini benar-benar terjadi, dan tak lucu lagi untuk diutarakan. “Capek kerja terus, coba bisa kerja sambil rebahan”, kalimat ini dulu juga biasa disampaikan untuk mengisi kepenatan bekerja. Saat ini, keadaan berbalik. “Pengen deh kerja sambil sarungan, sandalan, gak dituntut pake baju rapi atau bersepatu”, sekarang terkabul kan?

“Ngaji Online di masa Pandemi Covid-19”

Tidak ada yang benar-benar merasa nyaman dengan kondisi saat ini. Petugas medis, buruh dan bos perusahaan, murid sekolah, pedagang di pasar, pengelola wisata, karyawan hotel, bahkan (maaf) PSK sekalipun berharap agar wabah ini dapat segera usai. Sebagai pembelajar sekaligus pengajar, kegelisahan yang sama saya rasakan. Belum lagi sebagai pembantu pengelola administrasi lembaga pembelajaran. Ditambah lagi sebagai orang tua yang menemani (dan mengajari) anaknya saat masa belajar dari rumah. Doa agar wabah segera usai rasanya tak luput dari doa harian.

Sebagai pembelajar, saya rasa tak elok jika ada yang bilang “enakan elu bisa ngerjain tugas sambil rebahan”. Karena pada prinsipnya tak ada yang benar-benar rebahan sebagai pembelajar. Terlebih semenjak pekan kedua masa “Belajar Dari Rumah”. Berburu referensi, belajar mandiri, tidak bisa penelitian lapangan, dan berbagai persoalan lain membututi masa belajar dari rumah. Jelas, pembelajaran masa sebelum pandemi menjadi hal yang dirindukan. Andaikan waktu bisa ku putar kembali #halah…

Sebagai pengajar, tak baik juga jika ada yang mengatakan “enakan elu, tinggal ajak konferensi online, atau dibikinin video, atau lebih gampang lagi kasih tugas, beres”. Ini tentu lebih absurd lagi. Menyesuaikan RPS dengan pembelajaran yang awalnya dibuat blended learning, menjadi full elearning bukan persoalan sepele. Apalagi mengubah metode dari tutorial menjadi penugasan, akan muncul “PR Tambahan” lagi . Apalagi kalau menggunakan video conference seolah jadi penyiar radio, ngomong sendiri di hadapan benda mati. Yang menyedihkan, saat pengajar mencoba melucu namun terlihat tak ada tanggapan gara-gara sinyal ngedrop sehingga humornya putus-putus. Padahal, ngajar tanpa nge-joke atau ngebully ibarat spongebob yang masak tanpa spatula.

Sebagai pengelola pembelajaran, problem yang tak jauh beda muncul. Pencarian dokumen secara online menjadi persoalan tersendiri karena saat awal wabah berbagai dokumen penting masih dalam wujud fisik. Belum lagi komunikasi dan koordinasi antar pengelola yang berubah total. Sebagai orang tua yang mendampingi anaknya, sama pusingnya. Jika tak ada tugas dari sekolah, dalam hati berkata “anakku gak nutut materine”, dan begitu dapat tugas maka hatinya berkata lagi “utekku sing gak nutut kurikulume”.

Belum lagi kegelisahan “digital migrant” yang harus masuk ke dalam dunia yang diisi oleh para “digital native”. Bagi digital migrant, bisa berkomunikasi di grup WA adalah sebuah kecerdasan tersendiri, padahal yang dihadapi adalah generasi yang lebih senang pakai Line. Elearning institusi? Lupakan itu ketika berbicara tentang digital migrant yang menulis password email pada sisi belakang kartu nama di dompetnya. Kegagapan digital migrant memasuki dunia digital native bukanlah hal asing. Mengutip sebuah catatan, kegagapan itu bukan hanya karena tidak siap sarana-prasarananya. Namun juga karena tidak mampu memanfaatkan sarana-prasarana yang terpampang di hadapannya. Pernah lihat pengajar atau pembelajar yang presentasi dengan powerpoint namun tidak dalam mode slideshow? Itulah contohnya.

Pembelajaran daring hanya merupakan salah satu metode pembelajaran, dan bukan metode utama. Terlebih pada rumpun ilmu humaniora. Bagaimana mungkin mempelajari nilai-nilai kemanusiaan, namun belajarnya tidak bersentuhan langsung dengan manusia, justru berhadapan dengan HP dan Laptop?. Jauh sebelum wabah, saya tercatat beberapa kali belajar maupun mengajar secara daring dengan berbagai variannya. Namun, itu sebagai alternatif serta pelengkap. Bukan sebagai model utama, karena ada berbagai aspek terutama aspek psikis yang tidak dapat digantikan melalui pembelajaran daring. Namun, lagi-lagi keadaan yang menjadikan model pembelajaran daring menjadi model prioritas saat ini.

Tidak ada yang merasa enak dalam kondisi saat ini. Sebagai orang yang agak mengenal perkembangan teknologi, saya-pun tidak menyangka bahwa teknologi pembelajaran “dipaksa” berubah secepat ini. Tentu saja ini bukan untuk diratapi, namun untuk dihadapi.. Para pekerja yang bisa bekerja dari rumah, para pengajar dan pembelajar yang masih bisa melalui proses pembelajaran secara daring, serta seluruh pihak hendaknya tetap melakukan upaya yang optimal untuk memberikan hasil yang maksimal. Para pihak yang secara darurat harus keluar rumah, hendaknya tetap menjaga keamanan dan keselamatan diri dan sekitar.

Untuk saat ini, lebih baik di rumah saja. Selain sambil berdoa semoga wabah segera usai, juga sembari bersyukur masih bisa melaksanakan keseharian dari rumah. Di luar sana, tidak sedikit yang karena pandemi ia kehilangan kesehariannya, bahkan mungkin juga kehilangan hari esoknya.