Tahu dan Karakter Manusia Dalam Masa Pandemi


الرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ : رَجُلٌ يَدْرِي وَلا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَاكَ غَافِلٌ فَنَبِّهُوَهُ ، وَرَجُلٌ لا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لا يَدْرِي فَذَاكَ جَاهِلٌ فَعَلِّمُوهُ ، وَرَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَاكَ عَاقِلٌ فَاتَّبِعُوهُ ، وَرَجُلٌ لا يَدْرِي وَلا يَدْرِي أَنَّهُ لا يَدْرِي فَذَاكَ مَائِقٌ فَاحْذَرُوهُ.

Maqalah tersebut tentu tidak asing bagi pembelajar, khususnya yang mendalami aspek filosofis dari sebuah pengetahuan. Ada yang bilang itu catatan Al-Ghazali, ada yang menyebut itu kata Khalil bin Ahmad, bahkan ada pula yang mengatakan itu dari Ali bin Abi Thalib. Tentu dengan berbagai sumber dan rujukan berbeda.

Pada masa pandemi ini, keempat karakter tersebut muncul di sekitar kita. Di tengah obrolan di media sosial, tempat paling aman buat kumpul-kumpul saat ini.

Pertama, orang yang tahu, namun tak sadar jika dirinya tahu. Mereka adalah sebagian orang yang tahu terkait wabah ini, namun karena berbagai hal, tidak melaksanakan protokol keamanan sebagaimana mestinya. Enggan jaga jarak, ogah pakai masker, maupun hal lain yang membuatnya seolah abai terhadap bahaya yang mengintai. Tentu tugas kita bersama untuk menyadarkannya bahwa, sebenarnya ia tahu.

Kedua, orang yang tak tahu, namun ia sadar bahwa dirinya tak tahu. Ia tahu bahwa ia tidak tahu. Yang ia tahu sebatas bahwa saat ini ada wabah. Namun bagaimana wabah ini muncul, menyebar, maupun dampaknya pada tubuh, ia sadar bahwa ia tidak tahu. Tentu ia harus diberitahu. Kabar baiknya, orang dengan tipe ini karena sadar akan ketidaktahuannya, menjadi mudah diberitahu. Melaksanakan protokol pencegahan, meningkatkan imunitas tubuh, dan sebagainya.

Ketiga, orang yang tahu, dan ia tahu bahwa dirinya tahu. Mereka adalah orang yang harus diikuti. Ada yang tahu secara mendalam karena memang bagian dari keilmuan dan kepakarannya, misal para dokter dan perawat. Karena sadar dirinya tahu, ia memilih bersedia menjadi garda depan penanganan pasien. Ada yang dirinya tahu bagaimana wabah ini terjadi, dan ia tahu apa uang harus dilakukan, misal melakukan protokol pencegahan, pakai masker, di rumah saja jika tak ada keperluan mendesak, dan sebagainya.

Keempat, orang yang tak tahu, dan tak tahu jika dirinya tak tahu. Masih ditambahi juga, jika diberitahu ia tak mau tahu, bahkan menjadi semakin sok tahu. Sebenarnya ia tidak tahu, namun karena tak sadar bahwa dirinya tak tahu, ia justru melakukan banyak blunder yang justru membahayakan diri dan sekitarnya. Meyakini bahwa penyakit tersebut tak ada hingga menantang (baik secara langsung atau tidak) untuk dikenai. Atau melakukan aktifitas yang diyakini bisa mencegah hadirnya penyakit, padahal sama sekali tidak, misalnya.

Jika bertemu yang pertama, baiknya diingatkan. Jika ada yang kedua, dipahamkan. Jika muncul yang ketiga, diteladani. Dan, jika bersua yang keempat, silakan dihindari. Ada fitur unfollow, report, block, hingga unfriend yang disediakan gratis untuk dimanfaatkan.

Semua berawal dari tahu. Lalu, di mana posisi saya? Posisinya adalah saya duduk bersila, bersyukur tadi berbuka pakai tahu, tepatnya tahu susu. Sekarang baru sempat bahas sebagiannya, yakni tahu. Mungkin lain kesempatan akan membahas susu.