kopi


32
> jalan yang sepi dan gelap, membuat darah berdesir lebih cepat dan bulu kuduk menegang menahan dingin dan takut. itulah yang parman rasakan saat pertama kali memasuki desa tersebut. di gapura jalan masuk tadi, ia sekilas membaca nama desa ini adalah desa Karang Tegak, cocok dengan alamat yang diberikan pelanggannya, […]

>Rahasia Warkop yang Menangis


13
> Di sebuah warung kopi, parman sedang sibuk melayani pelanggan kopi spesial buatannya. Tiba-tiba, datanglah Pak Ustadz ke warung kopi tersebut. Terdengan percakapan unik antara mereka. P : Parman U : Ustadz U : Assalamu’alaikum,,, P : Waalaikumussalam, eh,, ada pak ustadz, silahkan duduk pak, mau pesan apa?? U : […]

>Emangnya Kita Mau Balapan??


49
> Di sebuah warkop, sendirian, ditemani leptop, modem dan blog. seorang yang baru datang sendirian duduk di sebelahku. “Mas, leptopnya bagus” kata nya“ah, biasa aja kok pak”, kataku merendahsetengah jam kemudian, “Mas, batrenya kok awet juga ya..” katanya“Iya pak, maklum, batre delapan cell” kataku “lho, iya tha? delapan cell,, berarti […]

>Baterai Laptop



28
>Membaca sekilas tentang hiruk pikuk di kompasiana perihal penghapusan rubrik agama, memunculkan berbagai opini dalam fikiran saya dan beberapa kompasianer. Mungkin, apa yang tertulis di sini hanyalah coretan belaka yang bersumber dari apa yang saya fikirkan berdasarkan hasil diskusi semalam di warung kopi bersama kompasianer lain di sekitar saya. Opini […]

>Menutup Lembar Agama